BANDAR LAMPUNG – Penurunan harga Reserve Transcription Polymerase Chain Reaction menjadi Rp525 ribu untuk luar Pulau Jawa dan Bali merupakan upaya pemerintah dalam hal memperluas testing dan tracing.
“Jadi PCR ini salah satu alat laboraturium yang mendeteksi untuk memastikan kalau itu virus covid-19,” kata Anggota Komisi V DPRD Lampung Deni Ribowo, Selasa (17/08/2021).
“Sebelumnya antigen ini memang tidak bisa memastikan seseorang positif atau tidak, tapi lewat PCR,” kata dia.
“Sementara PCR di Lampung sangat mahal, bahkan harga untuk di swasta bukan Rp900 ribu seperti yang diedarkan Kemenkes. Tapi bisa mencapai Rp1,5 juta,” keluh Anggota Fraksi Demokrat DPRD Lampung ini.
Putera daerah kabupaten Way Kanan ini bahwa dirinya hari ini menghadiri launching peresmian laboraturium PCR di RS Urip Sumohardjo.
Rumah sakit swasta yang mulai beroperasi sejak tanggal 10 September 2001 ini mengenakan harga untuk PCR sesuai dengan edaran pemerintah, yakni Rp 525 ribu.
Dengan harga murah ini tentunya, hasilnya diharapkan bisa cepat dan akurat. “Paling lama kalau bisa 1×24 jam. Itu yang sering kita teriakan,” tegas dia.
Dengan adanya penurunan harga untuk PCR ini, testing dan tracing di Lampung mesti diperbanyak lagi.
Karena untuk menurunkan rasio tingkat kematian tertinggi di Indonesia.”Penyebab angka kematian menjadi tinggi adalah testing-nya rendah,” jelas Deni Ribowo.
DRB sapaan akrab Deni Ribowo mencontohkan, jika ada tiga warga yang meninggal dunia. Kemudian, itu hanya dilakukan seratus testing.
“Dengan begitu, jelas kita ada diperingkat pertama. Tapi kalau 10 ribu kita melakukan testing, kemudian ada tiga yang meninggal dunia, maka tingkat kematian rendah,” jelas dia.
“Hal ini sudah sejak awal di bulan sebelumnya saya katakan lakukan testing dan tracing yang murah, cepat dan terjangkau masyarakat,” ujar dia.
“Bagaimana kok bisa testing, tracing yang harus diutamakan. Karena biar kita tahu sebelah mana yang ada zonanya, dimana musuhnya. Itu yang akan kita gempur,” tegas Deni Ribowo.(*)