Tanggamus (Medina_News) — Belum genap satu bulan setelah dilakukan perbaikan di akhir Desember 2025, jalur dua Jalan Ir. Juanda, Kotaagung, Kabupaten Tanggamus, kembali rusak dan berlubang, Kamis (22/01/2026). Ironisnya, kerusakan kembali muncul di titik yang sama, persis di lokasi lubang lama yang sebelumnya telah ditambal.
Fakta ini menjadi tamparan keras bagi pihak terkait. Jalan yang merupakan bagian dari Jalan Lintas Barat Sumatra tersebut seharusnya menjadi jalur aman dan layak, namun justru berubah menjadi ancaman nyata bagi keselamatan pengguna jalan, hanya dalam hitungan minggu setelah perbaikan.
Sorotan tajam pun datang dari salah satu tokoh masyarakat Kotaagung, Agus N. Ia menyebut kondisi ini sebagai kegagalan total yang tak bisa lagi ditoleransi.
“Ini sudah kelewat batas. Belum satu bulan, jalan sudah rusak lagi, dan lubangnya tetap di tempat yang sama. Kalau seperti ini, jangan sebut ini perbaikan. Ini kegagalan,” tegas Agus dengan nada geram.
Menurut Agus, rusaknya jalan di titik yang sama membuktikan bahwa perbaikan selama ini hanya bersifat tambal sulam tanpa menyentuh akar masalah. Ia menilai tidak ada evaluasi teknis yang serius, apalagi pengawasan ketat terhadap kualitas pekerjaan.
“Kalau dikerjakan dengan benar dan sesuai standar, tidak mungkin rusak secepat ini. Ini jalan nasional, bukan jalan uji coba. Jangan anggap rakyat bodoh dan mudah lupa,” ujarnya.
Agus menegaskan bahwa persoalan ini bukan sekadar aspal berlubang, melainkan soal keselamatan jiwa manusia. Jalan Ir. Juanda setiap hari dilalui kendaraan berat, angkutan umum, dan masyarakat yang beraktivitas dari pagi hingga malam.
“Satu lubang saja bisa merenggut nyawa. Apalagi ini jalur padat. Kalau sampai terjadi kecelakaan fatal, siapa yang bertanggung jawab? Jangan tunggu ada korban dulu baru sibuk,” kata Agus dengan nada keras.
Ia juga menyoroti kinerja dinas terkait yang dinilai lalai dan gagal menjalankan tanggung jawab publik. Pola kerusakan berulang, menurutnya, justru menimbulkan kecurigaan masyarakat terhadap kualitas pekerjaan dan penggunaan anggaran.
“Kalau setiap rusak selalu ditambal, lalu rusak lagi di tempat yang sama, ini bukan pembangunan. Ini lingkaran proyek gagal. Anggaran terus jalan, tapi kualitas tak pernah naik,” sindirnya tajam.
Warga sekitar pun mengaku resah. Selain membahayakan pengendara, lubang jalan yang kembali muncul menciptakan ketakutan, terutama saat malam hari dan kondisi hujan ketika lubang tertutup genangan air.
Masyarakat kini menuntut perbaikan menyeluruh dan transparan, bukan sekadar tambal sulam instan. Publik juga mendesak agar dinas terkait bertanggung jawab secara profesional dan moral, serta membuka evaluasi terbuka atas pekerjaan yang baru saja dilakukan.
“Jalan bisa ditambal, tapi kalau cara kerjanya tetap asal-asalan, lubang ini akan selalu kembali. Bedanya, nanti yang jatuh bukan cuma kendaraan, tapi nyawa manusia,” tutup Agus.
Kerusakan yang terjadi dalam waktu kurang dari satu bulan ini menjadi bukti nyata bahwa persoalan Jalan Ir. Juanda bukan soal waktu, melainkan soal kualitas dan tanggung jawab.
Lubang kembali menganga. Nyawa manusia kembali dipertaruhkan dan dinas terkait kembali diuji di hadapan publik.
Jurnalis : (Erwin).