Tanggamus (Medinas_News) — Rabu, 21 Januari 2026, pagi itu tak sekadar menjadi penanda hari. Di Pekon Banding Agung, Kecamatan Talang Padang, ia menjadi saksi sebuah peristiwa kemanusiaan yang sunyi namun sarat makna.
Di tengah keterbatasan dan perjuangan melawan penyakit ginjal, Ibu Desi Susanti menerima kunjungan yang membawa harapan: kehadiran Kepala Dinas Sosial Kabupaten Tanggamus bersama rekan-rekan Pendamping Sosial Kementerian Sosial Republik Indonesia Kecamatan Talang Padang.
Kunjungan tersebut berlangsung dalam suasana penuh empati. Tak ada jarak kekuasaan, tak ada sekat birokrasi. Yang hadir hanyalah sesama manusia yang datang menguatkan manusia lainnya yang sedang berada di titik paling rapuh dalam hidupnya.
Penyakit ginjal yang diderita Ibu Desi Susanti memaksanya menjalani cuci darah secara rutin. Sebuah perjuangan berat, tidak hanya secara fisik, tetapi juga secara mental dan ekonomi. Setiap perjalanan ke rumah sakit adalah pertaruhan harapan, doa, dan keteguhan hati.
Dalam silaturahmi tersebut, Dinas Sosial Kabupaten Tanggamus menyerahkan tali asih berupa bantuan sembako. Bantuan itu mungkin tampak sederhana, namun bagi keluarga Ibu Desi, ia adalah penopang hidup, penguat langkah, dan bukti bahwa mereka tidak berjuang sendirian.
Kepala Dinas Sosial Kabupaten Tanggamus Drs. Hardasyah, M.M, menyampaikan bahwa kehadiran pemerintah di rumah Ibu Desi bukan sekadar rutinitas kerja, melainkan panggilan nurani.
“Kami datang bukan hanya membawa bantuan, tetapi membawa pesan bahwa negara tidak berpaling. Ketika seorang ibu harus berjuang melawan sakit yang berat, tugas kami adalah memastikan ia tetap merasa diperhatikan, dikuatkan, dan didampingi,” tuturnya dengan suara yang sarat empati.
Ia menegaskan bahwa pelayanan sosial sejatinya adalah tentang keberpihakan kepada mereka yang paling membutuhkan, terutama warga yang sedang berjuang mempertahankan hidup.
“Di saat tubuh melemah dan harapan diuji, kehadiran pemerintah harus menjadi sandaran. Ini adalah amanah kemanusiaan yang harus kami jaga,” tambahnya.
Momen paling mengharukan terjadi ketika rombongan melepas Ibu Desi Susanti untuk berangkat menjalani proses cuci darah di Rumah Sakit Advent Bandar Lampung.
Langkahnya perlahan, wajahnya menyimpan lelah, namun matanya memancarkan keteguhan. Doa-doa lirih mengiringi keberangkatannya, dari keluarga, pendamping sosial, hingga jajaran Dinas Sosial.
Tak sedikit yang menahan air mata. Sebab semua yang hadir memahami, perjalanan itu bukan perjalanan biasa, melainkan perjalanan seorang ibu yang bertaruh dengan rasa sakit demi memperpanjang harapan hidup.
Kegiatan kemanusiaan ini sejalan dengan komitmen Pemerintah Kabupaten Tanggamus di bawah kepemimpinan Bupati Tanggamus, Drs. H. Moh. Saleh Asnawi, yang menekankan agar program sosial tidak berhenti pada data dan laporan, melainkan benar-benar menyentuh masyarakat secara langsung, terutama mereka yang berada dalam kondisi rentan dan membutuhkan perhatian khusus.
Melalui langkah ini, Dinas Sosial Kabupaten Tanggamus kembali menegaskan bahwa pembangunan tidak selalu diukur dari megahnya bangunan, tetapi dari sejauh mana negara hadir untuk warganya yang sedang jatuh, sakit, dan berjuang mempertahankan hidup.
Di Pekon Banding Agung hari itu, negara hadir bukan dengan janji, melainkan dengan empati. Bukan dengan kata-kata besar, melainkan dengan kehadiran. Dan bagi Ibu Desi Susanti, kehadiran itu adalah penguat untuk terus bertahan, melangkah, dan berharap.
Jurnalis : (Erwin).