Gelar Tanpa Integritas Hanya Huruf Mati: Peringatan Keras Subari Kurniawan untuk Lulusan Unila

Bandar Lampung DAERAH HOME LAMPUNG Tanggamus TERBARU

Sambutan Menggetarkan Alumni, Subari Kurniawan Tegaskan Integritas dan Tanggung Jawab Moral Lulusan Unila.

Bandar Lampung (Medinas_News) — Suasana khidmat namun penuh getaran intelektual menyelimuti prosesi Wisuda Universitas Lampung (Unila), ketika sambutan yang mewakili Ketua Umum Ikatan Keluarga Alumni Universitas Lampung (IKA Unila) disampaikan oleh Subari Kurniawan, SH., MH., yang juga dikenal sebagai Kepala Kejaksaan Negeri (Kajari) Tanggamus.

Di hadapan Rektor Unila, jajaran pimpinan universitas, para wisudawan, orang tua, serta keluarga besar akademika, Subari tampil bukan sekadar sebagai alumni sukses, melainkan sebagai cermin nyata keberhasilan Unila dalam melahirkan insan berintegritas dan berani berdiri di garda terdepan kepentingan bangsa.

Dengan nada tegas namun sarat refleksi, Subari mengingatkan bahwa gelar akademik hanyalah “huruf mati” bila tidak dihidupkan oleh kejujuran dan keberanian moral.

Pengalamannya sebagai jaksa, termasuk pengabdian di Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), menjadi landasan kuat pesan yang ia sampaikan, bahwa integritas adalah kontribusi paling mahal yang bisa diberikan alumni kepada negara dan almamater.

“Bangsa ini tidak kekurangan orang pintar, tetapi sangat kekurangan orang yang berani menjadi solusi,” tegas Subari, disambut perhatian penuh para wisudawan.

Ia menyinggung kontribusinya di dunia penegakan hukum, mulai dari penyelamatan keuangan negara hingga miliaran rupiah, perampasan aset, penyetoran uang pengganti, hingga penindakan terhadap sejumlah kepala daerah, gubernur, menteri, serta penyelenggara negara lainnya. Namun dengan rendah hati, Subari menegaskan bahwa semua capaian tersebut berakar dari nilai dan pendidikan yang ia peroleh di Universitas Lampung.

Dalam sambutannya, Subari juga mengangkat peran strategis IKA Unila. Menurutnya, alumni bukan sekadar peserta reuni atau simbol nostalgia masa lalu, melainkan wajah hidup universitas di tengah masyarakat. Keberhasilan alumni, kata dia, adalah ukuran nyata martabat sebuah kampus.

“Jika alumni sukses tetapi melupakan Unila, atau berilmu tinggi tetapi tak memberi manfaat, maka ada yang keliru dalam memaknai pendidikan,” ujarnya lugas.

Sambutan tersebut kian menggelitik ketika Subari menyentil fenomena generasi digital, sarjana yang sibuk membangun citra di media sosial, namun miskin substansi dan keberanian turun ke lapangan. Ia mengajak para lulusan Unila untuk mengkritik ketidakadilan dengan prestasi, bukan keluhan, serta masuk ke sistem untuk memperbaiki, bukan ikut memperkeruh.

Pesan penutupnya menjadi penegasan moral yang menggema di ruang wisuda: alumni Unila harus hadir sebagai sarjana rendah hati namun tajam berpikir, magister bijaksana, dan doktor yang menerangi kegelapan nalar publik.

IKA Unila, menurut Subari, selalu membuka pintu kolaborasi nyata bagi para alumni, bukan sebatas seremoni, tetapi kerja konkret bagi masyarakat, daerah, dan negara.

Sambutan tersebut tidak hanya menjadi pesan wisuda, tetapi juga manifesto intelektual alumni Unila: bahwa ilmu harus berpihak, gelar harus bermakna, dan almamater harus dijaga marwahnya di mana pun alumni berada.
Jurnalis : (Erwin).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *