BANDARLAMPUNG (MDSnews)-Ketegangan kembali menyelimuti wilayah Talang, Kecamatan Teluk Betung Selatan, Kota Bandar Lampung. Sejumlah warga setempat mendatangi Arwana Homestay pada Sabtu malam (14/2/2026), guna menuntut penutupan permanen penginapan tersebut yang diduga masih beroperasi secara sembunyi-sembunyi.
Aksi ini dipicu oleh keresahan warga terkait dugaan praktik asusila yang terus berulang, meski sebelumnya telah dilakukan mediasi untuk penghentian operasional.
Kronologi Kedatangan Warga
Kedatangan massa dipicu oleh temuan warga mengenai adanya aktivitas tamu di penginapan tersebut. Dalam rekaman video yang beredar, warga tampak melakukan klarifikasi langsung kepada penjaga penginapan.
Situasi sempat memanas saat diketahui masih adanya tamu yang menginap. Untuk menghindari tindakan anarkis, aparat keamanan dari Babinsa (Agung), Bhabinkamtibmas (Eko), serta anggota Linmas turut hadir mengawal jalannya aksi tersebut.
Poin-Poin Utama Keluhan Warga
Berdasarkan keterangan di lapangan, berikut adalah beberapa poin yang menjadi keberatan warga:
Pelanggaran Kesepakatan: Warga mendapati homestay masih menerima tamu meski sebelumnya telah diminta tutup.
Dugaan Praktik Asusila: Warga melaporkan adanya pasangan remaja yang ditemukan dalam satu kamar.
Keresahan Lingkungan: Keberadaan homestay dinilai mencoreng nama baik kelurahan, terlebih menjelang bulan suci Ramadan.
Sistem Reservasi Online: Penjaga penginapan mengakui masih menerima tamu melalui aplikasi daring atas arahan pengelola.
”Homestay Arwana dibuka kembali, terdapat dua remaja dalam satu kamar. Kami warga minta segera ditutup permanen,” tegas Firman, salah satu warga di lokasi.
Tanggapan Pihak Penginapan
Penjaga homestay yang bertugas saat itu menyatakan bahwa dirinya hanya menjalankan tugas sesuai arahan pengelola. Ia berdalih tidak bisa menolak tamu yang sudah melakukan pemesanan secara online. Terkait status tamu, ia mengaku hanya mengecek KTP tanpa mengetahui status hubungan mereka secara detail.
Tokoh masyarakat setempat, Pak Mamat, menyayangkan sikap pengelola yang seolah tidak mengindahkan keresahan warga. “Ini tidak bisa dibiarkan. Bila tidak segera ditutup, homestay ini bisa mencoreng nama baik kelurahan kami,” ujarnya.
Situasi Terkini
Meski sempat terjadi adu argumen, kehadiran Babinsa dan Bhabinkamtibmas berhasil meredam emosi warga sehingga situasi tetap terkendali. Hingga saat ini, pihak warga masih menunggu langkah tegas dari instansi berwenang dan keterangan resmi dari pemilik Arwana Homestay.
Warga mengancam akan membawa massa yang lebih besar jika tuntutan penutupan permanen tidak segera direalisasikan oleh pihak berwajib. (**)