Viral Dugaan Penjambretan di Kota Agung Barat, Narasi Pengunggah Tuai Kecaman Netizen

DAERAH HOME LAMPUNG Tanggamus TERBARU

Tanggamus (Medinas_News) — Sebuah video yang diunggah di platform TikTok mendadak viral usai menampilkan dugaan aksi penjambretan yang disebut terjadi di wilayah Jembatan Belu, Kecamatan Kota Agung Barat, Kabupaten Tanggamus.

Dalam video tersebut, terlihat momen sebelum kejadian, disertai keterangan “Kenangan lewat Kota Agung Tanggamus??”.

Namun, perhatian publik justru tersulut bukan hanya pada dugaan tindak kriminalnya, melainkan pada narasi lanjutan yang disampaikan oleh pengunggah.

Pengunggah menuliskan kalimat yang dinilai kontroversial: “Kena jambret dong, orang sana kan miskin males kerja.” Pernyataan ini langsung memantik reaksi keras dari warganet.

Kolom komentar pun dipenuhi perdebatan. Banyak yang mengecam keras pernyataan tersebut karena dianggap merendahkan masyarakat secara umum, tanpa dasar yang jelas.

“Jangan digeneralisir, bro. Kota Agung itu luas, ada pusat, timur, barat. Jangan asal ngomong,” tulis salah satu netizen.

Komentar lain bahkan lebih tegas: “Kriminal itu oknum, bukan satu daerah. Jangan bawa-bawa ‘miskin’ seolah semua orang di sana begitu.”

Tak sedikit pula yang menilai pengunggah telah melampaui batas dengan menyematkan stigma sosial terhadap masyarakat Kota Agung. Alih-alih menyampaikan informasi, narasi tersebut justru dianggap memperkeruh suasana dan memicu kesalahpahaman antarwilayah.

Di sisi lain, ada juga warganet yang meminta agar kejadian dugaan penjambretan tetap ditelusuri secara serius, tanpa harus dibumbui dengan opini yang merendahkan.

Perlu digarisbawahi, hingga kini belum ada keterangan resmi dari pihak berwenang terkait kejadian tersebut. Lokasi yang disebutkan berada di wilayah Kota Agung Barat, bukan mewakili keseluruhan kawasan Kota Agung yang terdiri dari beberapa kecamatan, yakni Kota Agung Pusat, Kota Agung Timur, dan Kota Agung Barat.

Fenomena ini kembali menjadi pengingat bahwa di era media sosial, satu kalimat bisa berdampak luas. Kritik keras publik terhadap pengunggah bukan tanpa alasan, masyarakat semakin sensitif terhadap narasi yang mengarah pada generalisasi dan stigma sosial.

Alih-alih mencari empati, narasi yang dilontarkan justru berbalik menjadi bumerang, memancing kecaman lebih besar daripada simpati.

jurnalis : (Erwin).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *