Oleh Mahendra Utama
Di tengah gejolak harga pupuk kimia yang terus meroket dan kelangkaan subsidi, Provinsi Lampung tengah menulis babak baru pertanian berkelanjutan.
Program Pupuk Organik Cair (POC) yang digencarkan Gubernur Rahmat Mirzani Djausal alias Mirza bukan sekadar inisiatif teknis, melainkan terobosan strategis yang menyentuh akar permasalahan petani: kemandirian dan kesejahteraan.
Apa Itu Pupuk Organik Cair dan Mengapa Jadi Prioritas Lampung?
Pupuk organik cair adalah pupuk cair hasil fermentasi bahan-bahan alami lokal seperti kotoran ternak, limbah hijau, daun-daunan, dan mikroorganisme lokal (MOL).
Berbeda dengan pupuk kimia yang cepat habis dan merusak struktur tanah jangka panjang, POC bekerja secara alami: memperbaiki kesuburan tanah, menambah mikroba baik, serta menyediakan unsur hara NPK secara bertahap.
Di Lampung, program ini menjadi andalan Program Desaku Maju untuk mengurangi ketergantungan impor pupuk dan mendukung ketahanan pangan nasional, termasuk Program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Keunggulan dan Manfaat POC bagi Gapoktan Penerima
Secara teori, pupuk organik cair memiliki keunggulan ganda dibandingkan pupuk sintetik. Pertama, aplikasinya mudah melalui penyemprotan, sehingga efisien untuk lahan luas. Kedua, kandungan mikroba aktifnya memperbaiki struktur tanah, mencegah erosi, dan meningkatkan kemampuan tanah menahan air serta nutrisi. Ketiga, hasil panen bisa naik 20-30 persen hanya dalam satu musim tanam.
Bagi Gapoktan (Gabungan Kelompok Tani) penerima, manfaatnya jauh lebih konkret dan langsung dirasakan.
Gapoktan tidak lagi bergantung pada pupuk subsidi yang sering telat atau mahal; mereka kini bisa memproduksi sendiri di tingkat desa menggunakan limbah lokal.
Biaya produksi per hektare turun drastis, sementara pendapatan naik karena produktivitas meningkat hingga 25 persen dan penggunaan pupuk kimia bisa ditekan 30 persen.
Lebih dari itu, POC membangun kemandirian kolektif. Gapoktan seperti Karya Mandiri di Tulang Bawang kini punya pusat produksi mandiri yang menghasilkan ribuan liter pupuk per siklus fermentasi.
Hasilnya dibagikan gratis ke anggota, sekaligus menciptakan lapangan kerja baru di pengolahan limbah dan pemasaran. Tanah lebih sehat, tanaman lebih tahan penyakit, serta panen lebih berkualitas semua itu mendukung hilirisasi pertanian dan pangan sehat untuk MBG.
Implementasi di Lapangan: Dari 500 Titik ke Target Besar
Pada 2025, Pemprov Lampung telah membangun 500 pusat produksi POC di berbagai desa, menjangkau lebih dari 190.000 petani dan 175.788 hektare lahan.
Program ini merata di kabupaten-kabupaten seperti Tulang Bawang, Lampung Tengah, hingga Pringsewu. Tahun 2026, target ditambah 1.000 titik lagi sehingga total mencapai 1.500 titik hampir separuh dari 2.651 desa di Lampung.
Gubernur Mirza turun langsung meninjau produksi, berbincang dengan petani, dan memastikan fasilitas seperti bed dryer juga disiapkan untuk mengurangi loss pascapanen.
Gubernur Rahmat Mirzani Djausal: Visi Petani Makmur
Gubernur Rahmat Mirzani Djausal berulang kali menegaskan visi utama program ini. Saat meninjau produksi di Kampung Aji Mesir, Tulang Bawang, ia menyatakan: “Kita semua ingin desa maju, petani makmur, rakyat sejahtera.”
Ia juga menjelaskan dampak ekonomi nyata: “Selain itu adanya pengembangan pupuk organik cair ini juga bisa mengurangi ketergantungan pupuk kimia. Bahkan penggunaan pupuk kimia berhasil ditekan hingga 30 persen, selain itu ada peningkatan produktivitas pertanian sekitar 25 persen.”
Lebih lanjut, Mirza menekankan aspek keberlanjutan: “Melalui pendekatan ini, diharapkan petani dan pembudidaya dapat memproduksi pangan sehat dengan biaya yang lebih efisien sekaligus menjaga keseimbangan lingkungan jangka panjang.”
Apresiasi untuk Para Pihak Terkait
Program POC Lampung sukses karena kolaborasi solid antarpihak. Apresiasi tertinggi patut diberikan kepada Gubernur Rahmat Mirzani Djausal yang visioner memprioritaskan Desaku Maju.
Terima kasih juga kepada Dinas Ketahanan Pangan, Tanaman Pangan dan Hortikultura (KTPTH) Provinsi Lampung yang konsisten melakukan bimtek dan monitoring.
Kelompok tani serta Gapoktan penerima seperti Karya Mandiri layak diapresiasi atas semangat inovasi dan kemandiriannya. Bupati, BUMDes, serta masyarakat desa yang aktif memanfaatkan limbah lokal turut menjadi pahlawan tak terlihat. Semua ini bukti bahwa pertanian maju dimulai dari desa yang mandiri.
Dengan momentum ini, Lampung tak hanya mengejar swasembada pangan, tapi juga menciptakan model pertanian inklusif yang bisa direplikasi di daerah lain. Petani makmur, desa maju itu bukan lagi mimpi, melainkan realita yang sedang dibangun hari ini.
Penulis: Mahendra Utama adalah Pemerhati Pembangunan dan TPP Gubernur Lampung Bidang Perindustrian dan Perdagangan
#PupukOrganikCairLampung #ProgramDesakuMaju #PetaniMakmurMirza #KemandirianPetani #PertanianBerkelanjutan