Pesawaran (MDSnews) – Pandemi Covid-19 telah melumpuhkan semua sektor. Tak terkecuali para pengrajin tapis asal Desa Negeri Katon harus memutar otak agar tetap bisa bertahan.
Kooridinator pengrajin Tapis Jejama Desa Negeri Katon Redawati mengatakan, meskipun usahanya terdampak pandemi dirinya tetap berupaya bertahan dengan menghasilkan karya lain yang masih memiliki daya jual ditengah pandemi Covid-19.
“Diawal pandemi saya membuat masker tapis dengan harga jual sebesar 15 sampai dengan Rp17 ribu dan hasilnya lumayan, namun untuk saat ini menurun drastis karena masker sudah banyak modelnya jadi perminggu hanya 20 masker yang terjual,” katanya, Rabu (7/7/2021).
“Meski begitu saya tetap bersyukur karena masih ada saja pembeli baik secara langsung maupun online meski tidak seramai sebelum pandemi,” tambahnya.
Menurutnya, saat ini di Desa Negeri Katon terdapat ratusan perajin tapis yang terdampak pandemi.
“Saat ini pesananya sedikit jadi perajinnya juga banyak yang tidak membuat tapis omset juga menurun sekitar 70 persen, kalau dulu bisa menghasilkan 50 selendang dalam waktu seminggu dengan harga jual Rp70 ribu saat ini hanya empat sampai lima selendang yang terjual,” ujarnya.
“Selain selendang kita juga membuat dompet, kotak tissue, syal, peci, topi koboy, jilbab, baju dan souvenir yang terbuat dari tapis,” timpalnya.
Untuk pemasaran, Reda menuturkan pihaknya menggunakan beberapa platform media sosial.
“Kita menggunakan media sosial facebook, instagram serta WhatsApp (WA) dengan cara mengirim ke grup-grup yang ada selain itu kita juga memiliki gakeri tapis jadi pengunjunh bisa langsung melihat tapis yang sudah jadi,” tuturnya.
Dirinya berharap pemerintah bisa membantu para pengrajin tapis dengan mengusulkan pembuatan emblem atau nametag (papan nama) tapis di baju anak sekolah.
“Jadi pengrajin ini tidak stuck tetap bisa bekerja dimasa pandemi saya juga sudah mengusulkan ke Pak Bupati dan Pak Dendi pun setuju dan akan diusulkan agar segera terelasisasi,” ujarnya.
“Sebelumnya kita juga sudah dibantu Bank Indonesia dengan diikuusertakan dalam pameran namun selama pandemi ini belum ada lagi, kita juga sudah pernah mendapat bantuan mesin dari Disperindag dan sudah pernah juga mendapat bantuan dana dari dinas koperasi,” tutupnya. (Ram/Arf)