Jeritan Sunyi di Balik Tembok Pesantren: Santriwati di Tanggamus Diduga Dihancurkan Mentalnya Lewat Bullying Brutal dan Intimidasi Berjam-jam

DAERAH HOME LAMPUNG Tanggamus TERBARU

Tanggamus (Medinas_News) — Tangis seorang santriwati pecah dalam sunyi. Bukan di tengah keramaian, bukan pula di hadapan orang tuanya, melainkan di balik dinding pondok pesantren yang seharusnya menjadi tempat paling aman untuk menimba ilmu dan akhlak.

Seorang santriwati berinisial F, yang mondok di salah satu Pondok Pesantren di wilayah Talang Padang, Kabupaten Tanggamus, Lampung, diduga menjadi korban perundungan berat, intimidasi sistematis, dan hukuman tidak manusiawi hingga mengalami trauma psikis mendalam.

Alih-alih mendapatkan bimbingan dan perlindungan, F justru disebut dipojokkan, difitnah, diinterogasi berjam-jam, dipermalukan, hingga dipaksa mengakui perbuatan yang tidak pernah ia lakukan.

Menurut keterangan keluarga, F telah mondok selama kurang lebih satu tahun. Namun sejak hari-hari awal berada di pesantren, hidupnya tak pernah benar-benar tenang.

Tuduhan pertama datang dari hal sepele: sebotol deterjen cair Soklin. Tanpa bukti, tanpa saksi, hanya karena melihat F menggunakan deterjen serupa, seorang santri melaporkannya kepada pengurus.

“Adik saya sudah membantah. Dia bilang itu deterjennya sendiri. Tapi tetap disidang,” ungkap Dina, kakak kandung korban, Minggu (01/02/2026).

Fitnah itu tak pernah berhenti. Tuduhan demi tuduhan kembali diarahkan kepada F, mencuri jilbab, mengambil uang jajan, hingga akhirnya dituduh mencuri flashdisk. Semua tuduhan itu, kata keluarga, tidak pernah dibuktikan secara hukum maupun logika.

Tidak ada saksi mata.

Tidak ada rekaman.

Tidak ada bukti fisik.

Namun vonis seolah sudah dijatuhkan.

Interogasi Panjang yang Menghancurkan Mental, Puncak penderitaan F terjadi saat ia kembali dituduh mencuri flashdisk dalam sebuah kegiatan pondok. Ia disebut sempat membuka lemari temannya, padahal menurut pengakuannya, ia hanya mengembalikan buku yang tertinggal di kamarnya.

Yang terjadi setelahnya bukan klarifikasi, melainkan interogasi brutal yang menguras mental dan fisik.

“Adik saya dikurung dan diinterogasi dari jam dua siang sampai magrib, lalu berlanjut lagi dari jam sembilan malam sampai jam satu dini hari,” ujar Dina dengan suara bergetar.

Dalam kondisi tertekan, dikelilingi banyak orang, dan terus-menerus dituduh, F dipaksa mengakui lebih dari sepuluh pencurian yang bahkan tidak pernah ia lakukan.

“Adik saya sudah ketakutan. Dia diintimidasi ramai-ramai. Dia diperlakukan seperti penjahat. Akhirnya dia mengaku, bukan karena bersalah, tapi karena sudah tidak kuat,” ungkap Dina.

Rambut Dipotong Pelan-Pelan, Harga Diri Dihancurkan, Pengakuan yang lahir dari ketakutan itu ternyata belum cukup.

Sebagai “hukuman”, F disebut mengalami perlakuan yang sangat merendahkan martabat manusia. Rambutnya dipotong sedikit demi sedikit, terutama bagian poni, dilakukan pelan-pelan, seolah menjadi bentuk teror psikologis.

“Itu bukan sekadar potong rambut. Itu mempermalukan, menghancurkan mentalnya,” tegas Dina.

Tak hanya itu, korban juga disiram air kotor dan dikurung oleh santri senior kelas 11 dan 12, dalam kondisi sedang menjalankan ibadah puasa.

Dina mengatakan, yang paling menyakitkan adalah keluarga sama sekali tidak pernah diberi tahu soal tuduhan-tuduhan tersebut, padahal mereka rutin menjenguk F setiap minggu.

“Kami datang menjenguk, tapi tak satu pun dari sepuluh tuduhan itu disampaikan ke kami. Kami baru tahu semuanya setelah kondisi adik saya hancur,” ujarnya.

Kini, F disebut mengalami trauma berat, ketakutan, dan tekanan mental yang mendalam. Pesantren yang dulu ia datangi dengan harapan, justru meninggalkan luka yang sulit disembuhkan.

Atas kejadian tersebut, keluarga menyatakan tidak akan tinggal diam. Mereka berencana melaporkan kasus ini secara resmi ke Polres Tanggamus, agar keadilan ditegakkan dan tidak ada lagi santri lain yang mengalami nasib serupa.

“Kami hanya ingin keadilan. Kami tidak ingin ada anak lain yang hancur mentalnya seperti adik saya,” tutup Dina.

Kasus ini menjadi tamparan keras bagi dunia pendidikan berbasis asrama. Ketika disiplin berubah menjadi kekerasan, dan pembinaan bergeser menjadi perundungan, maka yang lahir bukan santri berakhlak, melainkan korban dengan luka seumur hidup.

Jurnalis : (Erwin).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *