Batu Pertama Diletakkan, Talud Lebih Dulu Ambrol: Proyek Jembatan Ulu Semong Rp6 Miliar Akhirnya Diresmikan.

DAERAH HOME LAMPUNG Tanggamus TERBARU

Tanggamus (Medinas_News) — Proyek pembangunan Jembatan Ulu Semong di Pekon Ulu Semong, Kecamatan Ulu Belu, Kabupaten Tanggamus kembali menjadi sorotan. Jembatan yang digadang-gadang sebagai penghubung strategis antara wilayah Kabupaten Tanggamus dan Lampung Barat itu kini diresmikan setelah sebelumnya sempat menuai polemik serius di tengah masyarakat.

Pembangunan jembatan tersebut bermula dari seremoni peletakan batu pertama yang dilakukan Bupati Tanggamus Moh Saleh Asnawi pada September 2025. Saat itu proyek dipromosikan sebagai infrastruktur vital yang akan memperlancar distribusi hasil pertanian serta membuka akses pendidikan dan layanan kesehatan bagi masyarakat di wilayah perbatasan.

Namun perjalanan proyek bernilai Rp6.193.851.000 dari APBD tahun anggaran 2025 itu tidak berjalan mulus. Di tengah proses pembangunan, proyek tersebut sempat viral setelah ditemukan kerusakan pada bagian talud oprit jembatan yang ambrol meskipun konstruksi utama belum difungsikan.

Kerusakan itu memicu pertanyaan publik. Talud yang seharusnya menjadi penopang penting di sisi jembatan justru patah di saat proyek masih berjalan. Kondisi tersebut menimbulkan dugaan lemahnya perencanaan teknis dan pengawasan terhadap pekerjaan konstruksi yang menggunakan anggaran miliaran rupiah.

Tak hanya itu, temuan lain di lapangan juga memperparah sorotan terhadap proyek tersebut. Sejumlah tiang railing yang berada di badan jembatan dilaporkan dalam kondisi goyang meskipun semen sudah mengeras. Kondisi ini memunculkan kekhawatiran terkait kualitas pekerjaan yang dinilai jauh dari standar proyek infrastruktur strategis.

Proyek Jembatan Ulu Semong sendiri dikerjakan oleh CV Galih Patama Jaya dengan perencanaan oleh CV Tri Jaya Wasita Konsultan serta pengawasan dari CV Adika Konsultan. Sementara Dinas Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) Kabupaten Tanggamus bertindak sebagai pengguna anggaran sekaligus penanggung jawab proyek.

Dalam prosesnya, proyek tersebut juga mengalami keterlambatan penyelesaian pekerjaan hingga melewati jadwal yang telah ditentukan dalam kontrak.

Konsekuensinya, pihak pelaksana dikenakan sanksi denda keterlambatan sebesar satu per mil per hari dari nilai kontrak atau sekitar Rp6 juta per hari selama masa perpanjangan waktu pekerjaan.

Meski sempat diwarnai kerusakan konstruksi, sorotan publik, serta keterlambatan penyelesaian, jembatan yang menghubungkan Pekon Ulu Semong dengan wilayah Petai Kayu tersebut akhirnya tetap diresmikan oleh Bupati Tanggamus.

Dalam sambutannya saat peresmian, Bupati Tanggamus Drs Hi. Moh Saleh Asnawi berharap keberadaan jembatan ini dapat meningkatkan konektivitas wilayah serta memperlancar mobilitas masyarakat.
Ia mengharapkan dengan beroperasinya jembatan tersebut, biaya logistik menjadi lebih efisien, waktu tempuh masyarakat dapat dipangkas, serta mampu mendorong pertumbuhan ekonomi baru di wilayah Ulu Belu dan sekitarnya.

Apresiasi juga disampaikan kepada Pertamina Geothermal Energy yang secara konsisten menjalankan kewajiban setoran bonus produksi panas bumi kepada negara. Bonus produksi tersebut kemudian menjadi salah satu sumber pembiayaan pembangunan jembatan melalui APBD Kabupaten Tanggamus.

“Jembatan ini dibangun dari dana APBD, yang berasal dari pajak masyarakat yang dibayarkan kepada pemerintah, artinya jembatan ini juga dibangun dari uang masyarakat dan diperuntukkan juga untuk masyarakat, dari itu mengajak warga menjaga dan memelihara bersama apa yang sudah dibangun oleh Pemerintah Daerah Tanggamus,” tandas Bupati.

Peresmian jembatan tersebut turut dihadiri sejumlah pejabat daerah, di antaranya Kepala Dinas PUPR Tanggamus Belli Pahlupi, Asisten Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat Rully Runa Yuda, Asisten Administrasi Umum Jon Novri, Anggota DPRD Fraksi PKB Zulki Kurniawan, Anggota DPRD Fraksi Gerindra Hilman, Kepala Dinas Kominfo Suhartono, Kepala Dinas Sosial Hardasyah, Sekretaris Inspektorat Gustam Apriansyah, Sekretaris Bapperida Feri Setiawan, Camat Ulu Belu Mansyurin, serta Kepala Pekon Ulu Semong Asiri.

Peresmian itu menandai berakhirnya perjalanan proyek yang sejak awal digadang-gadang sebagai penghubung vital antarwilayah, namun sempat tercoreng oleh berbagai persoalan konstruksi yang lebih dulu viral sebelum jembatan benar-benar difungsikan. (Red).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *