Di tengah keterbatasan hidup masyarakat pesisir, warga Tampang Muda dan sekitarnya mengaku harus menempuh perjalanan laut menuju Kota Agung demi pemeriksaan kandungan karena dokter disebut kerap tidak berada di tempat.
Tanggamus (Medinas_News) — Di balik hamparan laut dan tenangnya pesisir Pekon Pematang Sawah, tersimpan kegelisahan yang tak banyak terdengar. Para ibu hamil di wilayah Tampang Muda dan sekitarnya disebut harus menghadapi perjuangan panjang hanya untuk mendapatkan pemeriksaan USG, layanan penting demi memastikan kondisi janin tetap sehat.
Harapan masyarakat untuk memperoleh pelayanan kesehatan di fasilitas setempat disebut kerap pupus ketika dokter yang ditunggu tidak berada di tempat. Akibatnya, pemeriksaan kandungan tidak dapat dilakukan, sementara para ibu hamil hanya bisa pulang dengan rasa cemas dan tanda tanya tentang kondisi bayi yang mereka kandung.
“Kalau setiap kami mau USG, dokternya tidak ada, Pak. Bukan tidak ditangani, tapi memang tidak ada dokternya. Jadi perawat-perawat yang lain juga tidak bisa meng-USG, harus ada dokternya,” ungkap seorang warga yang menyampaikan keresahan masyarakat.
Bagi sebagian orang, pemeriksaan kandungan mungkin hal sederhana, Namun bagi warga pesisir Pematang Sawah, itu berubah menjadi perjuangan yang menguras tenaga, waktu, dan biaya. Demi mendapatkan layanan USG, mereka mengaku harus menyeberangi lautan menuju Kota Agung, perjalanan yang bukan hanya melelahkan, tetapi juga memberatkan ekonomi keluarga.
Di tengah himpitan hidup masyarakat pesisir, biaya kapal, makan, transportasi, bahkan kemungkinan menginap menjadi beban tambahan yang harus ditanggung. Padahal, sebagian besar warga mengaku berasal dari keluarga dengan kondisi ekonomi terbatas.
“Kalau mau USG harus menyeberangi lautan ke Kota Agung. Belum ongkos, makan dan kebutuhan lainnya. Kami masyarakat di sini kebanyakan orang susah,” ujar warga dengan nada penuh harap.
Keluhan ini disebut bukan hanya dialami satu atau dua keluarga, tetapi menjadi keresahan masyarakat dalam beberapa bulan terakhir. Warga berharap ada perhatian nyata dari pemerintah daerah dan dinas terkait agar pelayanan kesehatan, khususnya bagi ibu hamil, tidak menjadi kemewahan yang sulit dijangkau oleh masyarakat pesisir.
Masyarakat juga berharap pengawasan terhadap tenaga dokter yang bertugas dapat diperketat, sehingga pelayanan tidak lagi bergantung pada ketidakpastian. Sebab bagi seorang ibu hamil, keterlambatan pemeriksaan bukan hanya soal administrasi pelayanan, melainkan tentang ketenangan hati seorang ibu yang ingin memastikan buah hatinya tumbuh sehat.
Di balik semua keluhan itu, tersimpan permintaan sederhana yang terdengar begitu dalam: jangan biarkan masyarakat pelosok merasa berjuang sendiri untuk mendapatkan hak dasar pelayanan kesehatan.
“Kami mohon dipermudah dengan keadaan kami yang di sini,” tutup warga.
Hingga berita ini diturunkan, belum ada keterangan resmi dari pihak fasilitas kesehatan maupun instansi terkait terkait keluhan masyarakat tersebut.
Jurnalis : (Erwin).