Di Tengah Jargon “Jalan Lurus”, PDAM Way Agung Didesak Berbenah: Kebocoran Tinggi, Air Keruh, PAD Dipertanyakan
Tanggamus (Medinas_News) — Di tengah semangat perubahan dan jargon “Jalan Lurus” yang terus digaungkan Pemerintah Kabupaten Tanggamus, kinerja PDAM Way Agung justru menjadi sorotan masyarakat. Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) yang seharusnya menjadi salah satu penopang pelayanan publik sekaligus sumber Pendapatan Asli Daerah (PAD) itu dinilai masih menghadapi berbagai persoalan mendasar yang belum terselesaikan.
Selain persoalan kebocoran jaringan yang disebut masih tinggi di sejumlah wilayah seperti Kota Agung, Talang Padang, dan Pulau Panggung, masyarakat juga menyoroti kualitas pelayanan air bersih yang dinilai belum maksimal. Keluhan datang dari sejumlah pelanggan di wilayah barat Tanggamus, khususnya Kecamatan Bandar Negeri Semuong (BNS) dan Kecamatan Wonosobo, yang mengaku air PDAM kerap keruh dan mengeluarkan bau tidak sedap.
Kondisi tersebut memunculkan pertanyaan publik mengenai efektivitas pengelolaan perusahaan daerah tersebut. Pasalnya, di saat pelanggan masih mengeluhkan kualitas layanan, belanja pegawai disebut terus mengalami peningkatan setiap tahunnya. Sementara perbaikan infrastruktur, penggantian jaringan tua, hingga penanganan kebocoran dinilai belum menunjukkan hasil yang signifikan.
Jika benar tingkat kehilangan air atau kebocoran masih berada pada angka yang tinggi, maka potensi pendapatan yang seharusnya dapat dinikmati perusahaan otomatis ikut terbuang. Air yang diproduksi namun tidak sampai menjadi pendapatan merupakan kerugian yang pada akhirnya berdampak pada kemampuan perusahaan menghasilkan keuntungan dan menyetor dividen kepada daerah.
Publik menilai, apabila kebocoran jaringan di sejumlah kecamatan dapat ditekan dan kualitas pelayanan ditingkatkan, PDAM Way Agung memiliki peluang lebih besar untuk meningkatkan pendapatan. Dengan demikian, perusahaan tidak hanya mampu membiayai operasional dan belanja pegawai, tetapi juga memberikan kontribusi nyata terhadap PAD Kabupaten Tanggamus.
Yang menjadi perhatian masyarakat saat ini bukan sekadar soal naik atau tidaknya gaji pegawai, melainkan sejauh mana peningkatan anggaran tersebut berbanding lurus dengan peningkatan kinerja perusahaan. Sebab, masyarakat sebagai pelanggan berharap mendapatkan layanan air bersih yang layak, jernih, tidak berbau, dan mengalir secara stabil.
Di tengah komitmen pemerintahan saat ini untuk membangun tata kelola yang lebih baik melalui semangat “Jalan Lurus”, masyarakat berharap evaluasi terhadap seluruh BUMD, termasuk PDAM Way Agung, dapat dilakukan secara terbuka dan objektif. Transparansi terkait kebocoran jaringan, kondisi piutang, penggunaan anggaran, hingga kualitas layanan menjadi hal penting untuk menjawab berbagai pertanyaan yang berkembang di tengah masyarakat.
Apabila berbagai persoalan tersebut tidak segera dibenahi, maka dikhawatirkan jargon perubahan hanya akan menjadi slogan semata. Sebaliknya, jika pembenahan dilakukan secara serius dan terukur, PDAM Way Agung berpotensi menjadi BUMD yang sehat, mampu memberikan pelayanan prima kepada masyarakat, sekaligus menjadi sumber PAD yang membanggakan bagi Kabupaten Tanggamus.
“Masyarakat tidak menuntut sesuatu yang berlebihan. Mereka hanya ingin air yang bersih, pelayanan yang baik, dan pengelolaan perusahaan daerah yang transparan. Karena pada akhirnya, PDAM bukan hanya milik pemerintah, tetapi juga milik seluruh masyarakat Tanggamus.”
Jurnalis: (Erwin).