Sekolah Viral yang Ditinjau Kadisdik Tak Kunjung Berubah, Abang Taun Bangun Hingga Layak: “Terima Kasih Pemkab Tanggamus, Nggak Usah Repot-Repot, Kami Sudah Bangun Sekolah Ini”
Tanggamus (Medinas_News) – Viralnya kondisi SD kelas jauh di Dusun Batu Nyangka, Pekon Tanjung Raja, Kecamatan Cukuh Balak, sempat mengundang perhatian luas. Bangunan sekolah yang puluhan tahun hanya berdinding papan lapuk dan beratap seng berkarat itu akhirnya didatangi langsung oleh Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Tanggamus, Drs. Viktor Libradi, S.H.. Saat itu, pemerintah menyampaikan komitmen akan melakukan kajian, evaluasi, dan mencari solusi agar anak-anak di pelosok mendapatkan fasilitas pendidikan yang lebih layak.
Namun, waktu berlalu. Masyarakat menunggu realisasi. Yang datang justru keheningan. Di tengah harapan akan aksi nyata dari pemerintah, perubahan besar malah diwujudkan oleh kepedulian masyarakat. Konten kreator asal Lampung, Abang Taun, bersama relawan dan para donatur bergotong royong membangun sekolah tersebut hingga berubah total. Bangunan kayu yang nyaris roboh kini berdiri kokoh, ruang belajar menjadi nyaman, serta meja dan kursi baru yang rapi membuat sekolah itu bahkan disebut warganet sebagai salah satu sekolah dengan fasilitas terbaik untuk ukuran kelas jauh di Kabupaten Tanggamus.
Perubahan itu kemudian diabadikan dalam sebuah video yang diunggah Abang Taun. Dengan nada sindiran, ia menyampaikan, “Terima kasih kepada Pemerintah Kabupaten Tanggamus yang telah membangun sekolah ini… sekolah kayu. Nggak usah repot-repot lagi, karena kami sudah membangun sekolah ini.”
Ucapan tersebut sontak mengundang ribuan respons dari warganet. Bagi banyak orang, kalimat itu bukan sekadar candaan, melainkan kritik yang menggambarkan kekecewaan karena perubahan nyata justru hadir dari tangan masyarakat, bukan dari pihak yang memiliki kewenangan.
Sorotan publik pun kini bukan lagi pada siapa yang pertama kali datang ke lokasi, melainkan siapa yang benar-benar menghadirkan perubahan. Sebab faktanya, sekolah yang selama bertahun-tahun menjadi simbol keterbatasan kini telah berdiri megah dan layak digunakan berkat gotong royong para relawan.
Kondisi ini menjadi pengingat bahwa pendidikan di pelosok tidak cukup hanya dikunjungi, didata, atau dijanjikan perbaikannya. Yang dibutuhkan masyarakat adalah tindakan nyata, karena setiap anak berhak belajar di ruang kelas yang aman, nyaman, dan bermartabat, tanpa harus menunggu kisah mereka viral terlebih dahulu.
Jurnalis : (Erwin).