Kepala Pekon Sinar Jawa Soroti Etika Mahasiswa KKN Darmajaya, Polemik Tempat Tinggal Berujung Kekecewaan Warga

DAERAH HOME LAMPUNG Tanggamus TERBARU

Tanggamus (Medinas_News) – Polemik yang melibatkan mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Institut Informatika dan Bisnis (IIB) Darmajaya di Pekon Sinar Jawa, Kecamatan Air Naningan, Kabupaten Tanggamus, memantik sorotan. Bukan semata soal tempat tinggal, tetapi juga menyangkut etika komunikasi yang dinilai telah melukai perasaan warga dan pemerintah pekon.

Kepala Pekon Sinar Jawa, Hadi Hariyanto, secara terbuka meminta pihak IIB Darmajaya melakukan pembinaan terhadap mahasiswa sebelum diterjunkan ke tengah masyarakat. Menurutnya, mahasiswa tidak hanya dituntut membawa ilmu pengetahuan, tetapi juga harus memahami tata krama, budaya, dan etika dalam berkomunikasi dengan masyarakat desa.

Persoalan bermula saat rombongan mahasiswa KKN datang ke Balai Pekon Sinar Jawa untuk meminta izin melaksanakan program pengabdian. Dalam proses persiapan, mahasiswa mencari rumah yang akan dijadikan tempat tinggal selama KKN dan memilih rumah milik Ibu Feni sebagai salah satu opsi.

Pemilik rumah kemudian menawarkan biaya sewa sebesar Rp400 ribu per orang. Dengan jumlah mahasiswa sebanyak 11 orang, total biaya sewa menjadi Rp4,4 juta.

Merasa nominal tersebut cukup tinggi, mahasiswa meminta bantuan Kepala Pekon Hadi Hariyanto untuk menengahi dan mencoba melakukan negosiasi kepada pemilik rumah. Hadi pun menghubungi Ibu Feni, namun pemilik rumah tetap bertahan pada harga yang telah ditetapkan.

Setelah itu, Hadi menghubungi koordinator mahasiswa KKN, Wayan, untuk menyampaikan hasil negosiasi. Menurut Hadi, saat itu Wayan menyampaikan bahwa mahasiswa sebenarnya tidak mempermasalahkan harga tersebut. Pernyataan itu dipahami sebagai kesediaan mahasiswa untuk menyewa rumah milik Ibu Feni.

Berbekal keyakinan bahwa rumahnya akan ditempati mahasiswa KKN, Ibu Feni mulai melakukan berbagai persiapan. Rumah dibersihkan, dirapikan, bahkan ia mengeluarkan biaya tambahan untuk membayar orang yang membantu membersihkan rumah agar layak dihuni.

Namun harapan itu pupus hanya berselang sehari.

Mahasiswa KKN tiba-tiba memilih rumah lain sebagai tempat tinggal. Informasi yang diterima Kepala Pekon menyebutkan keputusan tersebut diambil karena persoalan harga sewa.

Perubahan keputusan secara mendadak itu meninggalkan rasa kecewa bagi Ibu Feni. Pasalnya, menurut keterangan yang diterima Hadi, rumah telah dipersiapkan karena sebelumnya muncul pembicaraan yang dipahami sebagai bentuk persetujuan.

“Ibu Feni merasa kecewa karena sudah mengeluarkan biaya dan tenaga untuk mempersiapkan rumah, tetapi pada akhirnya mahasiswa memilih tempat lain,” terang Hadi.

Polemik tidak berhenti sampai di situ.

Hadi mengaku juga keberatan ketika mengetahui adanya rencana mahasiswa laki-laki dan perempuan tinggal bersama dalam satu rumah. Menurutnya, hal tersebut tidak sejalan dengan norma serta budaya yang selama ini dijunjung masyarakat Pekon Sinar Jawa.

Di tengah persoalan tersebut, muncul pula isu mengenai uang rokok yang kemudian menyeret nama Kepala Pekon.

Hadi mengaku tersinggung karena merasa seolah-olah dirinya dikaitkan dengan permintaan uang tersebut. Untuk memastikan kebenarannya, ia langsung menghubungi Ibu Feni.

Dalam voice note yang diterima Hadi, Ibu Feni membantah pernah mengatakan bahwa Kepala Pekon meminta uang rokok.

“Saya juga mau ngasih uang rokok ke kepala pekon itu tanda terima kasih. Bukan ngomong kalau kepala pekon minta uang rokok,” ujar Ibu Feni dalam rekaman suara yang disampaikan kepada Hadi, seraya menjelaskan percakapannya dengan salah seorang mahasiswi.

Bagi Hadi, seluruh persoalan ini sebenarnya tidak perlu membesar apabila sejak awal dibangun komunikasi yang baik dan terbuka.

Ia juga menyayangkan tidak adanya komunikasi langsung dari dosen pendamping mahasiswa KKN yang dinilai seharusnya hadir memberikan pendampingan sekaligus menjadi penengah ketika muncul persoalan di lapangan.

“Saya meminta anak-anak KKN Universitas Darmajaya untuk lebih beretika,” tegas Hadi kepada pewarta di Pekon Sinar Jawa, Sabtu (25/7).

Ia berharap pihak kampus menjadikan peristiwa tersebut sebagai bahan evaluasi agar mahasiswa yang menjalankan KKN benar-benar memahami bahwa mereka hadir di tengah masyarakat yang memiliki norma, adat, dan budaya yang wajib dihormati.

Hadi juga menegaskan dirinya tidak pernah ikut menentukan harga sewa rumah maupun memilih tempat tinggal mahasiswa. Menurutnya, persoalan tersebut sepenuhnya merupakan urusan antara mahasiswa dan pemilik rumah. Ia hanya berusaha membantu ketika diminta melakukan komunikasi.

Sementara itu, saat dikonfirmasi terkait polemik tersebut, Koordinator Mahasiswa KKN IIB Darmajaya, Wayan, belum memberikan penjelasan substansi. Melalui pesan WhatsApp, ia menyampaikan belum dapat memberikan keterangan karena sedang menghadiri acara keluarga.

“Siang kak, iya benar kak dengan saya sendiri. Mohon maaf kak sebelumnya saya lagi ada acara keluarga kak, untuk sementara saya tidak bisa menjawab. Maaf ya kak,” tulis Wayan melalui pesan singkat.

Hingga berita ini diterbitkan, pihak IIB Darmajaya belum memberikan keterangan resmi terkait polemik yang terjadi di Pekon Sinar Jawa. Media ini masih membuka ruang hak jawab dan klarifikasi dari pihak kampus maupun dosen pendamping KKN untuk melengkapi pemberitaan secara berimbang.

Jurnalis : (Erwin).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *