Dari Petani ke Supervisor: Kisah Yopanda Membuktikan Kemerdekaan Bisa Dimulai dari Sebuah Kesempatan

DAERAH HOME LAMPUNG Tanggamus TERBARU

Tanggamus (Medinas_News) — Bagi sebagian orang, kemerdekaan mungkin hanya dimaknai sebagai peringatan setiap 17 Agustus. Namun bagi Yopanda, kemerdekaan memiliki arti yang jauh lebih dalam: terbebas dari ketidakpastian hidup, dari keterbatasan pendidikan, dan dari kekhawatiran menghadapi masa depan.

Dulu, pria 38 tahun ini menjalani kehidupan sebagai petani dan pekerja serabutan. Penghasilan datang mengikuti musim, sementara pendidikan dan kesempatan untuk mengenal dunia kerja modern terasa seperti sesuatu yang berada jauh di luar jangkauan.

Namun satu kesempatan mengubah jalan hidupnya.

Ketika pembangunan Pabrik AQUA Tanggamus dimulai, Yopanda ikut terlibat dalam pekerjaan konstruksi dan kemudian bergabung dengan tim engineering. Dari lingkungan itulah ia untuk pertama kalinya melihat dunia industri dari dekat, dunia yang menuntut kedisiplinan, keterampilan, ketelitian, sekaligus keberanian untuk terus belajar.

Sepuluh tahun kemudian, perjalanan itu membawanya menjadi seorang supervisor di Pabrik AQUA Tanggamus.

Bukan sekadar perubahan pekerjaan, tetapi perubahan kehidupan.

Yopanda mengaku, salah satu hal yang paling memotivasinya saat itu adalah ketika melihat rekan-rekannya bekerja menggunakan komputer dan laptop. Ia menyadari bahwa dirinya juga ingin berkembang, meski ketika itu belum memiliki ijazah setara SMA.

Kesempatan akhirnya datang melalui program Paket C yang diberikan perusahaan bagi masyarakat sekitar yang belum memiliki ijazah SMA. Sekitar 20 warga mengikuti program tersebut, termasuk Yopanda.

Di tengah kesibukan bekerja, ia kembali duduk sebagai pelajar. Dua kali dalam sepekan ia mengikuti pembelajaran hingga akhirnya berhasil mendapatkan ijazah Paket C.

“Saya lihat teman-teman di engineering bisa menggunakan komputer dan laptop. Dari situ saya tergerak, saya juga ingin bisa. Ketika ada program Paket C, saya ikut karena ingin mendapat ijazah sekaligus menambah pengetahuan,” kata Yopanda kepada awak media, Senin (17/8/2026).

Hari ini, apa yang dahulu hanya menjadi keinginan telah menjadi bagian dari kesehariannya. Ia tidak hanya memperoleh ijazah setara SMA, tetapi juga mampu mengoperasikan komputer dan menjalankan tanggung jawabnya di lingkungan industri.

Lebih dari itu, dunia industri perlahan mengubah cara pandangnya terhadap kehidupan.

Jika dahulu bekerja sebagai petani membuatnya terbiasa menentukan sendiri kapan mulai dan kapan berhenti bekerja, industri mengenalkannya pada disiplin waktu, prosedur, tanggung jawab, serta keselamatan kerja.

Perubahan tersebut bahkan terbawa hingga ke luar lingkungan pabrik.

“Dulu ketika bekerja sebagai petani, kami tidak terlalu mengenal aturan keselamatan seperti di industri. Setelah bekerja di sini, kami jadi lebih peduli. Bahkan ketika sedang libur dan pergi ke kebun, tanpa sadar kebiasaan tentang keselamatan itu ikut kami terapkan,” ujarnya.

Namun bagi Yopanda, perubahan paling besar tetap berada pada persoalan ekonomi.

Dahulu, penghasilan sangat bergantung pada musim panen. Ada masa ketika hasil cukup, tetapi ada pula masa ketika ketidakpastian menjadi bagian dari kehidupan.

Kini, ia memiliki penghasilan yang lebih stabil dan dapat direncanakan.

Di situlah Yopanda menemukan makna kemerdekaan yang sesungguhnya.

Bukan hanya merdeka dari penjajahan, tetapi merdeka dari rasa cemas menghadapi hari esok.

Ketika Pabrik Tak Hanya Berdiri, Tetapi Tumbuh Bersama Warga.

Kisah Yopanda menjadi salah satu gambaran bagaimana keberadaan industri dapat membuka ruang baru bagi masyarakat di sekitarnya.

Kepala Pabrik AQUA Tanggamus, Teguh Santoso, mengatakan sejak mulai beroperasi pada April 2016, perusahaan berkomitmen memberikan prioritas kepada masyarakat sekitar untuk menjadi bagian dari tenaga kerja.

Komitmen itu tercermin dari komposisi karyawan. Berdasarkan data per Agustus 2026, sekitar 90 persen karyawan Pabrik AQUA Tanggamus berasal dari masyarakat sekitar.

Menurut Teguh, angka tersebut tidak terbentuk secara instan. Sejak awal operasional, perusahaan membuka berbagai pelatihan bagi warga yang sebelumnya banyak bekerja sebagai petani, pekebun, maupun pekerja sektor informal.

Mereka kemudian diperkenalkan dengan dunia manufaktur, mulai dari keselamatan kerja hingga keterampilan teknis yang dibutuhkan di lingkungan industri.

“Bagi kami, membangun pabrik berarti juga membangun masyarakat di sekitarnya. Karena itu, sejak awal kami berinvestasi pada pengembangan sumber daya manusia lokal, dan hari ini mayoritas karyawan kami adalah putra-putri daerah yang tumbuh bersama Pabrik AQUA Tanggamus,” ujar Teguh.

Kesempatan itu juga tidak semata-mata diberikan berdasarkan latar belakang pendidikan maupun usia. Warga yang sebelumnya belum pernah mengenal sektor manufaktur tetap diberikan ruang untuk berkembang melalui berbagai pelatihan, termasuk keterampilan teknis seperti pengelasan dan kompetensi operasional lainnya.

Yopanda menjadi salah satu bukti bahwa kesempatan, ketika dipadukan dengan kemauan untuk belajar, dapat mengubah arah kehidupan seseorang.

Dari Satu Orang, Menjadi Gerakan yang Lebih Besar.

Perubahan yang terjadi tidak berhenti pada persoalan pekerjaan.

Melalui filosofi lokal Begawi Jejama, yang bermakna bekerja bersama dan bergotong royong, Pabrik AQUA Tanggamus juga menjalankan berbagai program keberlanjutan bersama masyarakat.

Di wilayah hulu Pegunungan Tanggamus, perusahaan bersama masyarakat telah menanam lebih dari 11.000 pohon serta membangun sekitar 700 rorak atau lubang resapan air sejak 2016 hingga 2026.

Program tersebut diarahkan untuk memperkuat daerah tangkapan air, mengurangi risiko erosi, menjaga sumber daya air, sekaligus berjalan bersama pendampingan kepada petani kopi melalui praktik budidaya yang lebih ramah lingkungan.

Di wilayah hilir, perusahaan mengembangkan Taman Kehati Galih Batin seluas sekitar 3,2 hektare sebagai ruang terbuka hijau sekaligus pusat edukasi lingkungan.

Penelitian bersama Universitas Lampung pada 2025 mencatat kawasan tersebut memiliki indeks keanekaragaman hayati sebesar 3,16 yang tergolong tinggi, dengan sedikitnya enam spesies tanaman endemik dan 22 jenis burung yang telah teridentifikasi.

Program keberlanjutan juga menyentuh kebutuhan dasar masyarakat.

Melalui program Water, Sanitation, and Hygiene (WASH), Pabrik AQUA Tanggamus mendukung akses air bersih dan sanitasi. Hingga kini, program tersebut telah memberikan manfaat kepada 1.037 warga melalui 203 sambungan akses air bersih yang terhubung langsung ke rumah masyarakat.

Tak berhenti di sana, program pengelolaan sampah “Sampahku Tanggung Jawabku” sejak dimulai hingga 2026 telah mengelola sekitar 378 ton sampah plastik.

Berbagai program lain juga dikembangkan, mulai dari edukasi lingkungan di sekolah, pendampingan kelompok wanita tani, hingga pembinaan usaha mikro agar produk lokal memiliki nilai tambah.

Di tengah masyarakat, komunitas karyawan Pabrik AQUA Tanggamus juga menjalankan kegiatan sosial seperti santunan anak yatim piatu, penyediaan akses air bersih di sejumlah rumah ibadah, hingga edukasi pengelolaan sampah.

Kemerdekaan yang Tak Berhenti di Pintu Pabrik. Bagi Teguh, peringatan HUT ke-81 Republik Indonesia menjadi momentum untuk melihat kembali bahwa kemerdekaan tidak hanya berbicara tentang sejarah bangsa, tetapi juga tentang bagaimana masyarakat memiliki kesempatan untuk memperbaiki kehidupannya.

Kisah Yopanda menjadi salah satu potret kecil dari perjalanan tersebut.

Dari seorang petani dengan penghasilan yang bergantung pada musim, ia memperoleh kesempatan mengenal industri. Dari keterbatasan pendidikan, ia mendapatkan kesempatan mengikuti Paket C. Dari tidak mengenal komputer, ia kini menggunakannya dalam pekerjaan. Dan dari ketidakpastian penghasilan, ia kini memiliki kehidupan yang lebih stabil dan terencana.

Perjalanan itu seolah menunjukkan bahwa kemerdekaan dapat tumbuh dari sebuah kesempatan yang diberikan, lalu diperjuangkan dengan kerja keras.

“Bagi kami, semangat kemerdekaan hari ini adalah tentang membuka lebih banyak kesempatan bagi masyarakat untuk hidup dengan kualitas yang lebih baik dan mendorong setiap individu dapat menjadi versi terbaik mereka. Kisah Yopanda adalah salah satu contohnya, dan kami ingin Pabrik AQUA Tanggamus terus menjadi bagian dari perjalanan itu. Selamat Hari Ulang Tahun ke-81 Republik Indonesia,” tutup Teguh.

Pabrik AQUA Tanggamus sendiri berlokasi di Jalan Ir. H. Juanda, Pekon Teba, Kecamatan Kota Agung Timur, Kabupaten Tanggamus, Lampung, dan mulai berproduksi pada 2016. Berdiri di atas lahan sekitar 96.124 meter persegi, pabrik tersebut memproduksi sejumlah kemasan, antara lain galon, botol 600 ml, botol 1.500 ml, dan gelas 220 ml.

Sebagai pelopor Air Minum Dalam Kemasan di Indonesia sejak 1973, AQUA juga menjalankan berbagai inisiatif keberlanjutan melalui konsep One Circular Planet, yang mencakup sirkularitas air, kemasan, dan karbon.

Di Tanggamus, perjalanan satu dekade Pabrik AQUA pada akhirnya bukan hanya tentang mesin yang berproduksi dan botol yang dikemas.

Di balik aktivitas industri itu, ada cerita manusia seperti Yopanda—tentang seorang petani yang berani belajar, seorang pekerja yang terus berkembang, dan seorang warga yang menemukan makna kemerdekaan melalui kesempatan untuk berdiri lebih mandiri.

Sebab terkadang, kemerdekaan yang paling nyata bukanlah ketika seseorang terbebas dari masa lalu, melainkan ketika ia akhirnya memiliki kesempatan untuk menentukan masa depannya sendiri.

Jurnalis : (Erwin).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *