Tanggamus (Medinas_News) — Pesan perlindungan anak menggema kuat di halaman SD Negeri 1 Way Jaha, Kabupaten Tanggamus. Ratusan siswa, guru, dan undangan mengikuti Apel Tematik PPPA Provinsi Lampung, Kamis (27/8/2026), yang menjadi momentum menanamkan keberanian kepada anak untuk menolak segala bentuk kekerasan, termasuk ancaman yang mengintai di dunia digital.
Kegiatan tersebut dihadiri Perwakilan PPPA Provinsi Lampung Fitri Agustin, perwakilan PPPA Kabupaten Tanggamus, Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Tanggamus Suparman, S.Pd., Kepala SD Negeri 1 Way Jaha Hari Purnomo, S.Pd.SD., M.Pd., serta jajaran guru dan seluruh siswa.

Dalam amanatnya, peserta diajak memahami bahwa kemajuan teknologi harus diiringi kecerdasan dan keberanian melindungi diri. Anak-anak diingatkan untuk tidak memberikan foto maupun video pribadi kepada siapa pun, menjaga data pribadi, serta berani melakukan block dan report ketika menghadapi akun yang mengancam, melecehkan atau melakukan pemaksaan.
Pesan yang paling kuat dalam apel tersebut adalah bahwa melapor bukanlah aib, melainkan keberanian. Anak-anak juga didorong untuk tidak menjadi penonton ketika melihat temannya mengalami kekerasan, perundungan maupun perlakuan tidak pantas.
“Anak-anak harus tahu bahwa mereka berharga. Kalau ada sesuatu yang membuat mereka takut, malu atau bingung, jangan dipendam. Ceritakan kepada orang tua, guru atau orang dewasa yang dipercaya. Jangan pernah merasa bersalah karena menjadi korban,” menjadi pesan yang disampaikan dalam kegiatan tersebut.
Kepala SD Negeri 1 Way Jaha, Hari Purnomo, S.Pd.SD., M.Pd., menyambut positif kegiatan tersebut. Menurutnya, perlindungan anak tidak cukup hanya dengan memberikan nasihat, tetapi harus dibangun menjadi budaya bersama di lingkungan sekolah.
“Sekolah bukan hanya tempat anak mendapatkan ilmu, tetapi juga tempat mereka merasa aman. Kami ingin setiap anak di SD Negeri 1 Way Jaha tahu bahwa ketika mereka takut, kami hadir; ketika mereka mengalami masalah, kami mendengar; dan ketika mereka berani berbicara, kami akan melindungi mereka,” tegas Hari Purnomo.
Ia menambahkan, tantangan perlindungan anak saat ini semakin kompleks karena kekerasan tidak hanya terjadi secara langsung, tetapi juga dapat menyusup melalui media sosial dan ruang digital.
“Jangan sampai anak-anak kita menjadi korban dari teknologi yang seharusnya membantu mereka. Karena itu, kami terus mengingatkan: tubuhku milikku, dataku milikku, suaraku berharga. Anak harus berani berkata tidak, berani melapor dan berani menjadi pelopor anti-kekerasan,” ujarnya.
Apel kemudian ditutup dengan tekad bersama untuk menciptakan lingkungan sekolah yang aman, nyaman dan penuh kasih sayang. Sebuah pesan sederhana namun kuat ditanamkan kepada seluruh peserta: anak Lampung harus menjadi generasi yang cerdas digital, bukan korban digital.
Jurnalis : (Erwin).