Warga Ulubelu Dihantui Gempa, PGE Buka Fakta: Aktivitas Seismik Justru Meningkat Saat Pengeboran Mulai Terbatas
Tanggamus (Medinas_News) — Gempa yang berulang kali dirasakan masyarakat Ulubelu belakangan ini menyisakan keresahan. Setiap getaran memunculkan pertanyaan yang sama di tengah warga: apa sebenarnya yang terjadi di bawah tanah Ulubelu, dan apakah aktivitas panas bumi memiliki kaitan dengan fenomena tersebut?
Pertanyaan itu kini coba dijawab secara terbuka melalui pendekatan ilmiah. PT Pertamina Geothermal Energy (PGE) Area Ulubelu memfasilitasi kegiatan sosialisasi dan diseminasi kegempaan di Gedung Serba Guna (GSG) Pekon Ngarip, Kecamatan Ulubelu, Kabupaten Tanggamus, Kamis (27/08/2026).
Kegiatan tersebut tidak sekadar menjadi forum penyampaian informasi, tetapi menjadi ruang untuk mempertemukan keresahan masyarakat dengan penjelasan dari pihak yang memiliki kompetensi di bidang kegempaan. Akademisi dari Universitas Lampung (Unila), khususnya bidang geofisika, Badan Geologi, BMKG serta sejumlah pihak terkait turut dilibatkan untuk mengkaji fenomena kegempaan yang terjadi di wilayah Ulubelu.
Manajer Maintenance PT PGE Area Ulubelu Jeffri Sembiring yang mewakili General Manager menegaskan, perusahaan memilih pendekatan ilmiah untuk menjawab kekhawatiran masyarakat.
“Kita mencoba menyikapinya secara ilmiah. Kita tidak serta-merta menyangkal. Kita mengundang teman-teman dari Unila, khususnya geofisika, kemudian Badan Geologi, BMKG dan perwakilan lainnya untuk merangkum sebenarnya kejadian gempa di Ulubelu ini disebabkan oleh apa,” kata Jeffri.
Pernyataan tersebut menjadi penting di tengah munculnya berbagai kekhawatiran di masyarakat. PGE, kata Jeffri, tidak ingin fenomena kegempaan dijawab dengan asumsi maupun spekulasi. Sebaliknya, perusahaan berupaya mendorong agar penyebab dan karakteristik gempa dikaji berdasarkan data serta perspektif para ahli.
Jeffri juga memaparkan catatan aktivitas perusahaan selama hampir dua dekade. Kegiatan pengeboran panas bumi di Ulubelu telah dilakukan sejak 2008. Hingga kini, sekitar 40 sumur telah dibor untuk mendukung pengembangan energi panas bumi.
Namun, berdasarkan catatan yang disampaikan PGE, aktivitas seismik yang signifikan justru baru mengalami peningkatan dalam sekitar dua tahun terakhir. Kondisi tersebut terjadi ketika aktivitas pengeboran perusahaan sudah relatif lebih terbatas.
“Dari catatan yang ada, kegiatan pengeboran sudah dilakukan sejak 2008 dan sekitar 40 sumur sudah kita bor. Tetapi aktivitas seismik yang signifikan justru baru meningkat sekitar dua tahun terakhir, ketika aktivitas pengeboran sudah lebih terbatas,” jelasnya.
Fakta tersebut, menurut Jeffri, menjadi salah satu alasan penting mengapa fenomena kegempaan di Ulubelu perlu dilihat secara komprehensif. Tidak cukup hanya menghubungkan satu peristiwa dengan peristiwa lainnya tanpa melihat rentang waktu, kondisi geologi, data seismik serta kajian para ahli.
Karena itu, PGE memastikan sosialisasi tidak berhenti pada kegiatan satu kali. Perusahaan berkomitmen meningkatkan edukasi dan pemahaman masyarakat mengenai mitigasi serta kesiapsiagaan menghadapi gempa.
PGE juga akan berkoordinasi dengan BMKG terkait kemungkinan kebutuhan perangkat seismograf yang dapat mendukung pemantauan aktivitas kegempaan di wilayah Ulubelu.
Di sisi lain, PGE sendiri telah memiliki perangkat pemantauan kegempaan internal. Peralatan tersebut digunakan untuk mengawasi sejumlah area kritis perusahaan, mulai dari jalur produksi, fasilitas pembangkit listrik tenaga panas bumi, bangunan hingga sejumlah cluster yang dinilai membutuhkan pemantauan terhadap potensi bencana.
“Dengan adanya kegiatan sosialisasi, pemerintah daerah, para ahli, DPRD, kami berharap masyarakat Ulubelu tidak lagi dihantui kekhawatiran berlebihan terkait penyebab gempa,” ujar Jeffri.
Meski demikian, PGE tidak ingin masyarakat mengartikan penjelasan ilmiah sebagai alasan untuk lengah. Justru, kesiapsiagaan tetap menjadi hal utama karena Ulubelu secara geologis merupakan wilayah yang memiliki potensi kegempaan.
“Kewaspadaan dan kesiapsiagaan tetap harus menjadi bagian penting dalam menghadapi potensi bencana di wilayah yang secara geologis memang memiliki risiko kegempaan,” pungkasnya.
Bagi masyarakat Ulubelu, informasi tersebut diharapkan menjadi pijakan untuk melihat fenomena gempa secara lebih jernih. Keresahan tidak harus dijawab dengan kepanikan, tetapi dengan data; sementara potensi bencana tidak cukup hanya dibicarakan, melainkan harus dihadapi dengan ilmu pengetahuan, pemantauan dan kesiapsiagaan.
Jurnalis : (Erwin).