Debu Erupsi Anak Krakatau Menerpa, Siswa di 10 Kecamatan Tanggamus Belajar dari Rumah

DAERAH HOME LAMPUNG PROVINSI Tanggamus TERBARU

Debu Erupsi Anak Krakatau Menerpa, Siswa di 10 Kecamatan Tanggamus Belajar dari Rumah

Tanggamus (Medinas_News) — Debu vulkanik dampak aktivitas Gunung Anak Krakatau di Selat Sunda mulai menjadi perhatian serius Pemerintah Kabupaten Tanggamus. Demi melindungi keselamatan dan kesehatan peserta didik, Pemkab Tanggamus mengambil langkah cepat dengan mengalihkan kegiatan belajar mengajar (KBM) dari sekolah ke rumah selama dua hari, Senin–Selasa, 7–8 September 2026.

Kebijakan tersebut tertuang dalam surat Sekretaris Daerah Kabupaten Tanggamus Nomor 800/4216/21/2026 tertanggal 5 September 2026 tentang Pelaksanaan KBM di Rumah Dampak Abu Vulkanik Erupsi Gunung Anak Krakatau. Pembelajaran dilaksanakan secara daring/Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) melalui platform yang telah tersedia di masing-masing satuan pendidikan.

Kebijakan ini berlaku bagi satuan pendidikan di 10 kecamatan, yakni Cukuh Balak, Wonosobo, Pematang Sawa, Kelumbayan, Kelumbayan Barat, Limau, Semaka, Kota Agung, Kota Agung Barat dan Kota Agung Timur.

Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Tanggamus, Drs. Viktor Libradi HS., M.H., menegaskan bahwa kebijakan tersebut bukan berarti peserta didik diliburkan. Menurutnya, proses pendidikan tetap berjalan, namun pola pembelajaran untuk sementara disesuaikan dengan kondisi lingkungan demi mengutamakan keselamatan peserta didik.

“Ini bukan berarti anak-anak diliburkan. Pembelajaran tetap berjalan dari rumah dengan sistem daring atau PJJ. Kita hanya menyesuaikan pola pembelajaran dengan kondisi yang ada, karena keselamatan dan kesehatan peserta didik menjadi prioritas,” ujar Viktor.

Viktor menjelaskan, langkah tersebut merupakan bentuk antisipasi pemerintah daerah terhadap potensi dampak abu vulkanik yang dapat mengganggu kesehatan, khususnya bagi anak-anak yang harus beraktivitas di lingkungan terbuka.

“Kita tidak ingin mengambil risiko. Ketika kondisi lingkungan belum memungkinkan untuk pembelajaran tatap muka, lebih baik anak-anak belajar dari rumah. Pendidikan tetap berjalan, tetapi keselamatan mereka tidak boleh dipertaruhkan,” tegasnya.

Selama dua hari pelaksanaan KBM dari rumah, para guru dan tenaga kependidikan tetap menjalankan tugas kedinasan serta memberikan layanan pembelajaran sesuai kondisi masing-masing satuan pendidikan. Kepala sekolah juga diminta memastikan peserta didik tetap memperoleh layanan pendidikan dan terus memantau kondisi siswa maupun lingkungan sekolah.

Tak hanya itu, warga sekolah juga diminta melakukan pembersihan ruang kelas dan lingkungan sekolah dari debu atau abu vulkanik. Langkah tersebut dilakukan sebagai bagian dari upaya memastikan lingkungan sekolah tetap aman apabila nantinya kegiatan tatap muka kembali dilaksanakan.

Viktor kembali mengingatkan para orang tua agar tidak panik, namun tetap meningkatkan kewaspadaan. Anak-anak diharapkan mengurangi aktivitas di luar rumah selama dampak debu vulkanik masih dirasakan dan menggunakan masker apabila harus beraktivitas di luar.

Sementara itu, pelaksanaan pembelajaran setelah 7–8 September akan dievaluasi dengan mempertimbangkan perkembangan kondisi di lapangan serta arahan dari instansi yang berwenang.

Sekolah boleh sementara kosong dari aktivitas tatap muka. Namun pendidikan tidak boleh berhenti. Di tengah debu vulkanik yang menerpa, keselamatan anak-anak Tanggamus tetap menjadi yang utama.
Jurnalis : (Erwin).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *