Tanggamus (Medinas_News) — Debu vulkanik dampak erupsi Gunung Anak Krakatau mulai menjadi perhatian serius Pemerintah Kabupaten Tanggamus. Demi melindungi keselamatan dan kesehatan peserta didik, Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Tanggamus mengambil langkah cepat dengan menerapkan kegiatan belajar mengajar (KBM) dari rumah bagi satuan pendidikan di lima kecamatan.
Kebijakan tersebut berlaku selama dua hari, yakni Senin hingga Selasa, 7–8 September 2026, setelah Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Tanggamus berkoordinasi dan melaporkan kondisi tersebut kepada Bupati Tanggamus Drs. H. Moh. Saleh Asnawi, M.A., M.H. Kebijakan ini mendapat persetujuan Bupati sebagai bentuk kehati-hatian pemerintah dalam menghadapi dampak debu vulkanik yang berpotensi mengganggu kesehatan masyarakat, khususnya anak-anak sekolah.
Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Tanggamus, Drs. Viktor Libradi HS., M.H., memastikan kebijakan tersebut diterapkan pada satuan pendidikan yang berada di lima wilayah terdampak, yakni Kecamatan Cukuh Balak, Pematang Sawa, Kelumbayan, Semaka, Kotaagung Pusat, Kotaagung Timur dan Kotaagung Barat.
Dengan demikian, selama Senin dan Selasa, kegiatan pembelajaran tidak dilaksanakan secara tatap muka di sekolah, melainkan dilakukan dari kediaman masing-masing peserta didik.
Langkah ini diambil bukan tanpa alasan. Debu vulkanik yang terbawa angin dapat masuk ke lingkungan permukiman, jalan, hingga kawasan sekolah. Dalam kondisi seperti ini, anak-anak menjadi salah satu kelompok yang perlu mendapatkan perhatian lebih karena aktivitas mereka di luar rumah berpotensi meningkatkan paparan debu.
Keselamatan peserta didik menjadi prioritas. Pendidikan tetap berjalan, tetapi keselamatan tidak boleh dipertaruhkan.
Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Tanggamus meminta seluruh kepala satuan pendidikan segera memastikan informasi kebijakan tersebut diterima oleh guru, tenaga kependidikan, peserta didik dan orang tua.
Para guru juga diharapkan tetap memberikan pendampingan pembelajaran dari rumah sesuai kondisi masing-masing sekolah, sehingga perubahan pola belajar selama dua hari tersebut tidak dimaknai sebagai masa libur, melainkan penyesuaian kegiatan pendidikan karena kondisi lingkungan yang membutuhkan kewaspadaan.
Di sisi lain, orang tua diminta tidak panik namun tetap meningkatkan kewaspadaan. Anak-anak diimbau untuk mengurangi aktivitas di luar rumah selama debu vulkanik masih dirasakan. Jika harus keluar rumah, penggunaan masker sangat dianjurkan, terutama untuk membantu mengurangi paparan partikel debu.
Orang tua juga diminta memperhatikan kondisi anak. Apabila mengalami keluhan seperti batuk, sesak, iritasi mata atau gangguan kesehatan lainnya setelah terpapar debu, segera mendapatkan pelayanan kesehatan di fasilitas kesehatan terdekat.
“Ini bukan soal menghentikan pendidikan. Ini soal memastikan anak-anak kita tetap aman saat kondisi lingkungan sedang tidak bersahabat,” menjadi semangat dari kebijakan tersebut.
Pemerintah Kabupaten Tanggamus melalui Dinas Pendidikan dan Kebudayaan juga mengingatkan seluruh kepala sekolah agar tidak mengambil keputusan sendiri-sendiri yang bertentangan dengan arahan pemerintah daerah. Perkembangan kondisi di lapangan harus terus dipantau dan dikoordinasikan dengan instansi terkait.
Kebijakan KBM dari rumah di lima kecamatan ini sekaligus menunjukkan bahwa pemerintah memilih langkah antisipatif sebelum risiko terhadap peserta didik semakin besar.
Sebab, ketika alam sedang menunjukkan tanda-tanda aktivitasnya, keselamatan anak-anak tidak boleh menunggu.
Sekolah boleh kosong untuk sementara. Namun proses pendidikan tetap berjalan dari rumah. Yang paling penting, anak-anak Tanggamus tetap aman, sehat dan terlindungi dari dampak debu vulkanik.
Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Tanggamus mengajak seluruh orang tua, guru, kepala sekolah dan peserta didik untuk bersama-sama mematuhi kebijakan tersebut selama 7–8 September 2026 serta terus mengikuti perkembangan informasi resmi dari pemerintah.
Jangan panik, jangan lengah. Kurangi aktivitas di luar, gunakan masker saat diperlukan, dan pastikan anak-anak tetap berada dalam kondisi aman selama dampak debu erupsi masih dirasakan.
Jurnalis : (Erwin).