Bandar Lampung (MDSnews) — Dalam rangka mengantisipasi dampak paparan abu vulkanik terhadap kesehatan masyarakat, tenaga kesehatan lingkungan (Kesling) Puskesmas Rajabasa Indah melaksanakan kegiatan pemantauan kualitas udara di dapur Pemberian Makanan Tambahan (PMT) yang berada di wilayah kerja Puskesmas Rajabasa Indah.
Kegiatan ini merupakan bagian dari upaya preventif dan promotif untuk memastikan kondisi lingkungan, khususnya area pengolahan makanan, tetap memenuhi aspek kesehatan dan kebersihan di tengah adanya potensi paparan debu atau abu vulkanik.
Pemantauan dilakukan dengan memperhatikan kondisi udara dan lingkungan di sekitar dapur PMT, termasuk potensi masuknya debu atau partikel abu ke dalam ruangan yang dapat memengaruhi kualitas udara maupun keamanan proses pengolahan makanan.
Selain melakukan pemantauan, petugas Kesling juga memberikan edukasi dan imbauan kepada pengelola dapur agar meningkatkan kewaspadaan terhadap kebersihan lingkungan, menjaga kebersihan area pengolahan makanan, serta melakukan upaya pengendalian masuknya debu dan abu ke dalam ruangan.
Langkah tersebut menjadi penting karena paparan abu vulkanik dapat mengganggu kesehatan, terutama pada saluran pernapasan, mata, dan kulit,oleh karena itu, pengendalian kualitas lingkungan perlu dilakukan secara berkelanjutan, khususnya pada fasilitas yang berkaitan dengan penyediaan makanan bagi masyarakat.
Kegiatan pemantauan ini juga menjadi bagian dari dukungan terhadap upaya Pemerintah Kota Bandar Lampung dalam melindungi kesehatan masyarakat dari dampak lingkungan akibat abu vulkanik,di bawah perhatian dan dukungan Wali Kota Bandar Lampung, Bunda Hj. Eva Dwiana, berbagai langkah antisipasi terus dilakukan melalui sinergi lintas sektor dan jajaran pelayanan kesehatan di wilayah Kota Bandar Lampung.
Kepala Puskesmas Rajabasa Indah, dr. Sarah Prima Ayu, M.KM, menyampaikan bahwa pemantauan lingkungan merupakan langkah penting untuk memastikan fasilitas pelayanan dan penyediaan makanan tetap berada dalam kondisi yang aman dan sehat.
“Pemantauan kualitas udara ini merupakan langkah preventif untuk mengantisipasi dampak abu vulkanik, khususnya pada area dapur PMT yang menjadi tempat pengolahan makanan,kami ingin memastikan lingkungan pengolahan tetap bersih, sehat, dan terlindungi dari paparan debu atau abu yang berpotensi mengganggu kesehatan maupun kebersihan makanan,” katanya.
Lebih lanjut, dr. Sarah menegaskan bahwa upaya perlindungan kesehatan membutuhkan keterlibatan bersama, baik petugas kesehatan, pengelola fasilitas, maupun masyarakat.
“Kami terus mengimbau seluruh pengelola dapur PMT dan masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan, menjaga kebersihan lingkungan, membatasi masuknya debu ke dalam ruangan, serta menggunakan masker apabila kondisi lingkungan berdebu,puskesmas Rajabasa Indah akan terus melakukan pemantauan dan edukasi sebagai bagian dari upaya menjaga kesehatan masyarakat,” Jelasnya.
Melalui kegiatan tersebut, Puskesmas Rajabasa Indah berkomitmen untuk terus memperkuat surveilans dan pengawasan kesehatan lingkungan serta berkoordinasi dengan lintas sektor dalam menghadapi potensi dampak abu vulkanik.
Sinergi antara Pemerintah Kota Bandar Lampung, Puskesmas, lintas sektor, dan masyarakat diharapkan dapat memperkuat kesiapsiagaan serta meminimalkan risiko gangguan kesehatan akibat paparan abu vulkanik.(JML)