Mirza Tancap Gas..!! Lampung Segera Punya Pembangkit Listrik dari Sampah, Era Baru Energi Hijau Dimulai

Bandar Lampung DAERAH HOME Jakarta LAMPUNG TERBARU

Jakarta (Medinas_News) — Pemerintah Provinsi Lampung resmi mempercepat pembangunan Pengolahan Sampah Menjadi Energi Listrik (PSEL) Lampung Raya setelah dilakukan penandatanganan kesepakatan bersama antara Pemerintah Pusat, Pemprov Lampung, tiga pemerintah daerah aglomerasi, serta Danantara Indonesia, Senin (11/5/2026) di Jakarta.

Kesepakatan strategis tersebut berlangsung dalam rapat koordinasi bersama Kementerian Koordinator Bidang Pangan dan menjadi tonggak penting dalam upaya mengatasi persoalan sampah yang selama ini menjadi perhatian serius di wilayah Lampung Raya.

Gubernur Lampung Rahmat Mirzani Djausal melalui Kepala Dinas Lingkungan Hidup Provinsi Lampung, Riski Sofyan, menegaskan bahwa proyek PSEL bukan hanya sekadar solusi pengelolaan sampah, melainkan langkah besar menuju transformasi energi hijau di Lampung.

“Ini bukan sekadar proyek persampahan, tetapi investasi hijau masa depan. Sampah yang selama ini menjadi persoalan akan diubah menjadi energi listrik yang bermanfaat bagi masyarakat. Lampung sedang melakukan lompatan besar menuju daerah yang lebih modern dan ramah lingkungan,” ujar Riski Sofyan.

Berdasarkan data pemerintah, timbulan sampah di wilayah Lampung Raya mencapai 1.168,62 ton per hari. Kota Bandar Lampung menjadi penyumbang terbesar dengan 770,13 ton per hari, disusul Kabupaten Lampung Selatan sebesar 310,66 ton per hari dan Kabupaten Lampung Timur sebanyak 87,83 ton per hari.

Melalui teknologi Waste to Energy (WTE), ribuan ton sampah tersebut nantinya akan diolah menjadi energi listrik dengan kapasitas mencapai 20 hingga 25 Megawatt (MW), yang diperkirakan mampu menyuplai kebutuhan listrik sekitar 15 ribu rumah tangga.

Pemerintah memastikan proyek ini memiliki dasar hukum dan dukungan regulasi yang kuat, mulai dari Peraturan Daerah Pengelolaan Sampah, Pergub Jakstrada, Roadmap Akselerasi Persampahan, hingga Perpres Nomor 109 Tahun 2025 tentang PSEL berbasis teknologi ramah lingkungan. Bahkan, proyek ini telah masuk dalam kategori Proyek Strategis Nasional (PSN), sehingga mendapat prioritas percepatan dari pemerintah pusat.

Dalam skema bisnisnya, PLN ditetapkan sebagai offtaker atau pembeli listrik hasil pengolahan sampah dengan harga pembelian sebesar 20 sen USD per kWh. Skema tersebut turut mendapat dukungan Kementerian Keuangan guna memastikan keberlanjutan operasional proyek ke depan.

Tak hanya menghasilkan listrik, residu pembakaran sampah sekitar 200 ton per hari juga akan dimanfaatkan menjadi bahan baku paving block dengan kapasitas produksi mencapai 4.800 meter persegi setiap hari.

Selain dampak lingkungan, proyek PSEL juga diproyeksikan memberikan manfaat ekonomi yang besar bagi masyarakat. Sedikitnya 500 hingga 800 tenaga kerja diperkirakan akan terserap, mulai dari sektor operasional, logistik, hingga industri turunannya.

Di sisi lain, keberadaan PSEL diharapkan mampu mengurangi beban Tempat Pembuangan Akhir (TPA), mendukung program landfill mining, serta meningkatkan kualitas udara dan sanitasi lingkungan di wilayah aglomerasi Lampung Raya.

Danantara Indonesia menargetkan proses perizinan dan pematangan lahan selesai pada Oktober 2026, sementara groundbreaking dijadwalkan berlangsung pada November 2026 mendatang.

Apabila pembangunan berjalan sesuai rencana, Lampung akan menjadi salah satu daerah terdepan di Indonesia dalam penerapan teknologi pengolahan sampah menjadi energi listrik.

Riski Sofyan juga mengingatkan bahwa keberhasilan proyek ini tidak hanya bergantung pada teknologi, tetapi juga kesadaran masyarakat dalam mengelola sampah dari rumah tangga.

“Teknologi secanggih apa pun tidak akan berjalan maksimal tanpa dukungan masyarakat. Budaya memilah sampah harus mulai dibangun bersama agar proyek ini benar-benar menjadi warisan lingkungan yang sehat bagi generasi mendatang,” katanya.

Dengan dimulainya percepatan pembangunan PSEL Lampung Raya, Pemerintah Provinsi Lampung optimistis persoalan sampah yang selama bertahun-tahun menjadi tantangan besar perlahan dapat teratasi, sekaligus membuka babak baru menuju energi bersih dan pembangunan berkelanjutan di Sai Bumi Ruwa Jurai.

Jurnalis : (Red).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *