Rutan Kotabumi Kebobolan Scamming Love, Pemuda Muhammadiyah Lampura Desak Investigasi Oknum Internal

DAERAH LAMPUNG Lampung Utara TERBARU

LAMPUNG UTARA (MDs_News) – Praktik penipuan berbasis cinta atau scamming love yang diduga dikendalikan dari balik jeruji besi Rutan Kelas IIB Kotabumi memicu reaksi keras dari Pimpinan Daerah Pemuda Muhammadiyah (PDPM) Lampung Utara, Selasa (12/5/26)

Organisasi kepemudaan ini mendesak adanya pembersihan besar-besaran terhadap oknum yang diduga “bermain” di dalam rutan.

​HP Masuk ke Sel Kabid Hikmah dan Kebijakan Publik PDPM Lampung Utara, Dedi Ariyanto, S.H., menegaskan bahwa fenomena ini adalah tamparan bagi sistem pengamanan rutan.

Ia menilai, mustahil narapidana bisa memiliki akses komunikasi tanpa adanya celah yang diciptakan oleh oknum petugas.

​”Kasus ini harus diusut tuntas. Tidak logis ponsel bisa masuk dan digunakan secara bebas di dalam lapas tanpa ada kelalaian atau bahkan keterlibatan oknum. Kami meminta aparat melakukan investigasi menyeluruh,” tegas Dedi kepada awak media.

​Dedi juga menyoroti dampak ngeri dari kejahatan ini. Menurutnya, scamming love bukan sekadar kerugian materiil, melainkan serangan psikologis yang menghancurkan korban dengan cara memanipulasi emosi.

​Senada dengan Dedi, Ketua PDPM Lampung Utara, Bakri Apriyadi Brades, S.H., meminta kementerian terkait tidak tinggal diam. Ia mendesak Kementerian Imigrasi dan Pemasyarakatan untuk mengevaluasi total sistem keamanan di Rutan Kelas IIB Kotabumi.

Investigasi terbuka terkait masuknya barang terlarang (ponsel). Tindakan Tegas, Sanksi berat bagi oknum petugas yang terbukti memfasilitasi komunikasi ilegal.

Evaluasi rutin terhadap pengawasan komunikasi di blok-blok hunian. ​”Jangan sampai Rutan Kelas IIB Kotabumi justru bertransformasi menjadi markas kejahatan siber. Ini meresahkan masyarakat dan mencoreng nama baik institusi pemasyarakatan,” ujar Bakri.

​Hingga berita ini diturunkan, pihak Pemuda Muhammadiyah berharap adanya langkah konkret dari aparat penegak hukum dan pihak internal Rutan untuk mengembalikan kepercayaan publik. Keberanian institusi untuk memotong tangan-tangan nakal di dalam sel menjadi kunci agar efek jera benar-benar dirasakan oleh para pelaku penipuan digital. (Rma)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *