Tanggamus (Medinas_News) — Nasib pilu dialami sebanyak 20 kader Posyandu yang bertugas di Kemuning 1 dan Kemuning 2, Pekon Terdana, Kecamatan Kotaagung Pusat, Kabupaten Tanggamus. Selama kurang lebih delapan bulan, para kader yang selama ini menjadi garda terdepan pelayanan kesehatan masyarakat itu mengaku belum menerima honor yang menjadi hak mereka.
Padahal, di tengah keterbatasan dan kondisi ekonomi yang tidak mudah, para kader tetap menjalankan tugasnya tanpa pernah berhenti. Mereka tetap hadir melayani masyarakat, membantu penimbangan balita, mendata ibu hamil, melayani lansia, hingga mendukung program kesehatan pemerintah. Namun ironisnya, pengabdian yang mereka lakukan justru dibalas dengan ketidakjelasan.
Menurut keterangan seorang narasumber yang meminta namanya dirahasiakan, para kader sudah berulang kali mencoba mempertanyakan persoalan tersebut kepada pihak pekon. Akan tetapi hingga kini belum ada jawaban pasti terkait kapan honor mereka akan dibayarkan.
“Kami ini hanya kader kecil, tapi kami bekerja dengan hati. Kami datang membantu masyarakat bukan karena ingin kaya, tapi setidaknya hak kami jangan diabaikan seperti ini. Delapan bulan bukan waktu yang sebentar,” ungkap narasumber dengan nada sedih.
Ia mengaku, selama ini para kader tetap bertahan menjalankan tugas meski di dalam hati merasa kecewa dan lelah. Sebab di sisi lain, mereka juga memiliki kebutuhan hidup, anak yang harus sekolah, kebutuhan rumah tangga, hingga biaya sehari-hari yang terus berjalan.
“Kadang kami sedih sendiri. Saat masyarakat membutuhkan pelayanan, kami tetap datang. Tapi ketika kami membutuhkan kejelasan hak kami, justru seperti tidak ada yang peduli. Rasanya seperti pengabdian kami tidak dihargai,” lanjutnya.
Lebih menyedihkan lagi, menurut pengakuan narasumber, kepala pekon setempat disebut sulit dihubungi saat persoalan honor kader dipertanyakan. Bahkan ketika beberapa pihak mencoba menanyakan kepada istri kepala pekon, jawaban yang diterima justru mengaku tidak mengetahui persoalan tersebut.
Kondisi itu membuat para kader semakin bingung dan merasa seolah dibiarkan menghadapi persoalan ini sendirian tanpa kepastian. Padahal mereka hanya meminta hak yang memang seharusnya diberikan kepada mereka sebagai bentuk penghargaan atas pengabdian selama ini.
“Kalau memang ada kendala anggaran atau persoalan administrasi, setidaknya jelaskan kepada kami. Jangan sampai kami terus menunggu tanpa kepastian. Kami ini manusia biasa yang juga punya kebutuhan hidup,” kata narasumber lagi.
Para kader berharap Pemerintah Kabupaten Tanggamus dapat membuka mata terhadap persoalan yang mereka alami. Mereka juga berharap Inspektorat, pihak kecamatan, maupun instansi terkait dapat turun tangan melakukan perhatian serius terhadap kondisi kader Posyandu di Pekon Terdana.
Sebab menurut mereka, kader Posyandu selama ini merupakan ujung tombak pelayanan kesehatan di tingkat pekon yang keberadaannya sangat membantu masyarakat. Namun di balik pengabdian itu, ternyata masih ada kader yang harus menahan kecewa karena hak mereka belum juga diberikan.
“Kami tidak ingin ribut. Kami hanya ingin didengar dan diperhatikan. Jangan sampai kader-kader yang selama ini membantu program pemerintah justru hidup dalam kesedihan karena haknya diabaikan,” tutup narasumber penuh harap.
Jurnalis : (Erwin).