Tanggamus (Medinas_News) – Sebuah harapan besar akhirnya lahir dari pelosok Kecamatan Kelumbayan. Di tengah keterbatasan ekonomi yang selama ini membelenggu, seorang anak bernama Ahmad Sulton, putra pasangan Jayadi dan Sri Wahyanti asal Dusun Pematang Nebak, Pekon Penyandingan, berhasil lolos sebagai peserta Sekolah Rakyat (SR), program pendidikan berasrama gratis yang digagas pemerintah melalui Kementerian Sosial RI sebagai implementasi Asta Cita keempat Presiden Prabowo Subianto.
Keberhasilan Ahmad Sulton bukan sekadar lolos sekolah. Ia menjadi simbol bahwa kemiskinan bukanlah akhir dari mimpi. Dari ribuan keluarga yang masuk dalam kategori miskin dan miskin ekstrem berdasarkan Data Tunggal Sosial dan Ekonomi Nasional (DTSEN), hanya satu anak dari Kecamatan Kelumbayan yang berhasil memenuhi seluruh persyaratan administrasi dan hasil survei lapangan untuk memperoleh kesempatan emas tersebut.
Sekolah Rakyat merupakan program afirmasi pemerintah yang diperuntukkan bagi anak-anak dari keluarga miskin dan miskin ekstrem pada desil terbawah. Seluruh kebutuhan peserta didik ditanggung pemerintah pusat, mulai dari biaya pendidikan, asrama, seragam, perlengkapan sekolah, transportasi hingga uang saku, sehingga para siswa dapat fokus mengejar cita-cita tanpa dibebani persoalan ekonomi keluarga.
Proses penjangkauan calon siswa dilakukan oleh Kementerian Sosial melalui Pendamping Sosial Non Kebencanaan (PSNK) Kecamatan Kelumbayan dengan melakukan verifikasi data sekaligus survei langsung ke rumah-rumah warga. Dari proses tersebut, Ahmad Sulton dinyatakan memenuhi seluruh kriteria untuk menjadi siswa Sekolah Rakyat.
Rencananya, Kamis (30/07/2026), Ahmad Sulton akan diberangkatkan menuju Bandar Lampung. Sehari kemudian, Jumat (31/7/2026), ia resmi masuk Asrama Sekolah Rakyat di Kota Baru, Jati Agung, Provinsi Lampung, untuk memulai perjalanan hidup yang baru.
Suasana haru menyelimuti Aula Kantor Kecamatan Kelumbayan saat prosesi pelepasan siswa digelar, Selasa (28/7/2026). Acara tersebut dipimpin langsung Camat Kelumbayan Ali Imron, SH., MM., serta dihadiri Ketua Komisi IV DPRD Tanggamus Romzi Edy, S.Pd.I, Kepala Pekon Penyandingan Syarif Zulkarnain, Pendamping Sosial Kecamatan Kelumbayan, aparatur pekon, staf kecamatan, hingga keluarga Ahmad Sulton yang tampak tak kuasa menahan rasa bangga.
Dalam sambutannya, Camat Ali Imron mengingatkan Ahmad Sulton agar memanfaatkan kesempatan langka tersebut dengan sebaik-baiknya.
“Belajarlah dengan sungguh-sungguh, jaga kesehatan, patuhi seluruh aturan dan tata tertib selama berada di asrama. Kesempatan ini harus menjadi jalan untuk mengubah masa depan,” pesannya.
Sementara itu, Kepala Pekon Penyandingan Syarif Zulkarnain menegaskan bahwa pendidikan merupakan investasi paling berharga dalam memutus rantai kemiskinan.
“Melalui Sekolah Rakyat ini kami berharap Ahmad Sulton kelak mampu mengangkat derajat keluarganya dan menjadi contoh bagi anak-anak lainnya bahwa keterbatasan bukan alasan untuk berhenti bermimpi,” ujarnya.
Pada kesempatan yang sama, Ketua Komisi IV DPRD Tanggamus Romzi Edy memberikan motivasi yang membakar semangat Ahmad Sulton. Ia meminta agar siswa asal Kelumbayan itu tidak pernah merasa rendah diri hanya karena berasal dari daerah pelosok maupun keluarga sederhana.
“Jangan pernah minder karena kita anak pelosok. Jangan pernah berkecil hati karena berasal dari keluarga yang tidak mampu. Justru keadaan itulah yang harus menjadi bahan bakar untuk berjuang lebih keras. Jadilah petarung di medan ilmu, buktikan bahwa anak Kelumbayan mampu bersaing dan mengharumkan nama daerah,” tegas Romzi.
Romzi juga berharap kuota Sekolah Rakyat bagi Kecamatan Kelumbayan terus bertambah pada tahun-tahun mendatang sehingga semakin banyak anak-anak dari keluarga prasejahtera yang memperoleh kesempatan mengenyam pendidikan berkualitas secara gratis.
“Program Sekolah Rakyat merupakan salah satu terobosan besar Presiden Prabowo dalam membuka akses pendidikan bagi keluarga miskin. Kami berharap ke depan semakin banyak anak Kelumbayan yang bisa mengikuti jejak Ahmad Sulton sehingga semakin banyak keluarga yang keluar dari lingkaran kemiskinan melalui pendidikan,” pungkasnya.
Pelepasan Ahmad Sulton bukan hanya menjadi seremoni pemberangkatan seorang siswa. Lebih dari itu, momen tersebut menjadi simbol lahirnya secercah harapan bahwa dari pelosok Kelumbayan, mimpi besar dapat tumbuh, diperjuangkan, dan diwujudkan demi masa depan yang lebih baik.
Jurnalis : (Erwin).