Oleh: Husni Mardian, M.Pd
(MDSnews)
(STIES ALIFA Pringsewu)
Malam Jumat yang hening ini menjadi saksi bisu sebuah pertemuan yang menggugah. Di tengah kesibukan masing-masing, kami para alumni PBA 2020 yang kini tersebar di berbagai medan perjuangan berkumpul dalam sebuah sharing session yang dibimbing oleh Ustadz Syamsul Arifin, M.Pd. Beliau adalah dosen UNIDA, sekaligus guru, pembimbing, dan mentor yang senantiasa hadir menuntun langkah kami. Ada yang kini berdiri sebagai edupreneur, ada yang mengabdi sebagai guru, ada yang merintis jalan sebagai Dosen, dan tak sedikit pula yang memilih menjadi pengajar Al-Qur’an melalui layar-layar media sosial. Meski jarak memisahkan, ikatan ukhuwah dan semangat khidmat tetap menyala.
Di malam yang sunyi ini, Ustadz Syamsul memberikan nasihat yang menyentuh relung hati. Beliau mengajak kami untuk merenungi tiga cara memandang kehidupan dalam berkhidmat di setiap langkah:
Pertama, segala sesuatu terjadi atas kehendak Allah, dan segala sesuatu yang kita peroleh adalah atas izin Allah semata. Tidak ada satu pun peristiwa yang luput dari takdir Allah, dan tidak ada satu pun pencapaian yang terlepas dari kehendak Allah.
Kedua, jangan pernah menjadi sekuler, yaitu memisahkan antara pekerjaan dengan pencapaian diri. Sadarilah bahwa seluruh capaian yang kita raih hari ini adalah karena Allah yang menghendaki kita berada di posisi tersebut. Tidak ada yang kebetulan, semua adalah skenario terbaik dari Sang Maha Perencana.
Ketiga, carilah dan tempuhlah jalan hidup sesuai dengan apa yang Allah ridhai dan kehendaki dari diri kita. Bukan sekadar mengejar apa yang kita inginkan, tetapi lebih pada apa yang Allah inginkan dari kita.
Nasihat berikutnya mengantarkan kami pada sebuah konsep mendalam yang diambil dari kitab Ihya’ Ulumiddin karya Imam Al-Ghazali. Beliau menyampaikan sabda yang menjadi fondasi:
“فَإِنَّ الْإِيمَانَ نِصْفَانِ: نِصْفٌ صَبْرٌ، وَنِصْفٌ شُكْرٌ”
“Sesungguhnya iman itu ada dua belahan: setengahnya adalah sabar, dan setengahnya lagi adalah syukur.”
Iman bagaikan dua sisi mata uang yang tak terpisahkan. Sabar adalah keteguhan saat menghadapi ujian; syukur adalah pengakuan atas nikmat di setiap keadaan. Keduanya saling menguatkan, sebagaimana sayap burung yang memungkinkannya terbang. Jika salah satu patah, maka hilanglah keseimbangan.
Dari pemahaman tentang sabar dan syukur, Ustadz Syamsul kemudian membimbing kami untuk memahami dua kategori masalah yang senantiasa menghiasi perjalanan hidup:
Pertama, masalah yang selesai dengan sendirinya. Ini adalah masalah yang hanya membutuhkan waktu dan pembuktian. Ia akan berlalu seiring berjalannya waktu, dan tugas kita adalah bersabar menunggu datangnya jalan keluar.
Kedua, masalah yang tidak selesai. Ini adalah masalah yang faktanya tidak bisa diubah lagi. Tidak ada yang bisa kita perbuat untuk mengubah keputusan atau keadaan yang telah terjadi. Namun, di sinilah letak kekuatan kita: kita tidak bisa mengubah keputusan orang lain, tetapi kita memegang kendali penuh atas respons hati kita sendiri. Kita bisa mengubah cara pandang, mengelola perspektif, dan memilih untuk tetap bersyukur meski keadaan tak berpihak.
Renungan tersebut terasa semakin relevan ketika melihat kehidupan hari ini. Di tengah berbagai persoalan sosial, kita sering menyaksikan bagaimana pekerjaan, jabatan, dan kepentingan duniawi dipisahkan dari nilai-nilai moral dan agama. Padahal, semakin besar amanah yang dimiliki seseorang, semakin besar pula tanggung jawab moral yang mengikutinya.
Fenomena korupsi, misalnya, tidak cukup dipandang hanya sebagai persoalan hukum dan ekonomi. Ia juga mengingatkan kita pada persoalan yang lebih dalam: apa yang terjadi ketika kekuasaan, kekayaan, dan kepentingan pribadi tidak lagi dikendalikan oleh kesadaran moral?
Ketika keberhasilan hanya diukur dari apa yang berhasil dikumpulkan untuk diri sendiri, keluarga, atau kelompok, manusia dapat kehilangan pertanyaan yang lebih mendasar: dari mana semua itu berasal, untuk apa digunakan, dan kepada siapa kelak dipertanggungjawabkan?
Karena itu, agama tidak semestinya hanya hadir di ruang ibadah. Nilai agama justru harus hadir ketika seseorang mengajar, memimpin, berbisnis, meneliti, mengambil keputusan, menggunakan jabatan, dan berinteraksi dengan sesama.
Di sinilah pesan Ustadz Syamsul terasa semakin kuat. Beliau menyampaikan amanat dari Prof. Hamid Fahmy Zarkasyi agar para alumni senantiasa berpegang teguh pada agama. Iman dan amal saleh jangan sampai tercerabut dari setiap langkah yang kita ambil. Agama harus menjadi landasan, iman menjadi penerang, dan takwa menjadi benteng dalam menjalani kehidupan.
Malam itu akhirnya bukan sekadar pertemuan alumni. Ia menjadi ruang untuk berhenti sejenak dari kesibukan dan bertanya kepada diri sendiri: untuk apa sebenarnya ilmu, pekerjaan, jabatan, dan segala pencapaian yang kita miliki?
Mungkin selama ini kita terlalu sibuk mengejar posisi, tetapi lupa bertanya tentang khidmat. Terlalu sibuk mengejar pengakuan, tetapi lupa tentang keikhlasan. Terlalu sibuk menghitung pencapaian, tetapi lupa kepada siapa seluruh pencapaian itu pada akhirnya harus dipertanggungjawabkan.
Kami pulang dengan satu kesadaran:
Khidmat bukan tentang posisi, tetapi tentang kesungguhan.
Perjuangan bukan tentang pengakuan manusia, tetapi tentang mencari ridha Ilahi.
Dan pencapaian bukan alasan untuk meninggikan diri, tetapi kesempatan untuk semakin bersyukur.
Malam yang sunyi itu akhirnya tidak benar-benar sunyi. Ia meninggalkan percakapan panjang di dalam hati.
Semoga setiap langkah yang kami ayunkan di medan juang masing-masing senantiasa diberkahi. Semoga ilmu yang kami miliki menjadi jalan pengabdian, pekerjaan yang kami lakukan menjadi amal, dan setiap pencapaian justru semakin mendekatkan kami kepada Allah.
Semoga kita termasuk orang-orang yang mampu bersabar ketika diuji, bersyukur ketika diberi, dan tetap rendah hati ketika berada di atas.
Wallahu a’lam bish-shawab.