Viral..!! Warga Gotong Royong Perbaiki Jalan di Tanggamus, Kritik Bang Taun Picu Sorotan soal Cara Mengawal Pembangunan

DAERAH HOME LAMPUNG Tanggamus TERBARU

Viral..!! Warga Gotong Royong Perbaiki Jalan di Tanggamus, Kritik Bang Taun Picu Sorotan soal Cara Mengawal Pembangunan

Tanggamus (Medinas_News) — Semangat gotong royong masyarakat dalam memperbaiki jalan secara swadaya di Kabupaten Tanggamus, Lampung, menjadi sorotan setelah sebuah video yang diunggah konten kreator TikTok Bang Taun ramai diperbincangkan warganet. Video tersebut dilaporkan meraih ratusan ribu penayangan dan belasan ribu tanda suka hanya dalam hitungan jam.

Di balik ramainya unggahan tersebut, tersimpan potret yang menyentuh sekaligus memunculkan pertanyaan besar tentang pembangunan infrastruktur daerah: ketika masyarakat turun tangan memperbaiki jalan dengan kemampuan sendiri, sejauh mana perhatian dan dukungan terhadap kebutuhan mereka telah berjalan?

Dalam video yang beredar, terlihat sejumlah besar warga bergotong royong melakukan perbaikan jalan. Mereka menyumbangkan tenaga dan kebersamaan demi menghadirkan akses yang lebih baik. Pemandangan itu menjadi gambaran nyata bahwa bagi masyarakat, jalan bukan sekadar hamparan aspal atau tanah, melainkan urat nadi aktivitas sehari-hari, mulai dari mencari nafkah hingga menunjang pendidikan dan pelayanan kesehatan.

Namun, perhatian publik kemudian turut tertuju pada cara Bang Taun menyampaikan kritik kepada pemerintah daerah. Pernyataan yang bernada menyindir pejabat Tanggamus, termasuk ungkapan yang menyuruh pejabat tidur, memunculkan perdebatan mengenai batas antara kritik yang tajam dan penyampaian aspirasi yang tetap mengedepankan etika.

Kritik terhadap pemerintah tentu merupakan bagian penting dalam kehidupan demokrasi. Kehadiran kreator konten dengan jangkauan pengikut yang besar bahkan dapat membantu mengangkat persoalan yang sebelumnya kurang mendapat perhatian. Akan tetapi, besarnya jumlah pengikut dan tingginya penayangan sebuah video semestinya menjadi sarana memperkuat persoalan masyarakat, bukan sekadar menciptakan kegaduhan di ruang digital.

Persoalannya bukan semata-mata siapa yang paling lantang berbicara atau siapa yang paling banyak ditonton. Lebih penting dari itu adalah bagaimana sorotan publik dapat mendorong penyelesaian persoalan yang benar-benar dirasakan warga.

Di sisi lain, kondisi jalan yang sampai harus diperbaiki melalui swadaya masyarakat juga tidak sepatutnya menjadi alasan untuk serta-merta menghakimi pemerintah daerah. Penanganan infrastruktur berkaitan dengan berbagai aspek, mulai dari kewenangan ruas jalan, kondisi kerusakan, perencanaan, hingga ketersediaan anggaran dan tahapan pengerjaan.

Karena itu, diperlukan penjelasan dan tindak lanjut dari pihak terkait agar kebutuhan masyarakat dapat ditangani secara terukur. Pemerintah Kabupaten Tanggamus, di bawah kepemimpinan Bupati dan Wakil Bupati, tetap memiliki ruang untuk menjelaskan kondisi sebenarnya sekaligus menunjukkan langkah konkret dalam merespons keluhan warga.

Pada saat yang sama, masyarakat yang telah bergotong royong juga layak mendapatkan perhatian. Jangan sampai semangat kebersamaan mereka hanya menjadi tontonan viral sesaat, kemudian dilupakan ketika perhatian publik beralih ke persoalan lain.

Gotong royong warga patut diapresiasi, tetapi semangat itu tidak seharusnya membuat kebutuhan terhadap infrastruktur yang layak seolah-olah menjadi tanggung jawab masyarakat seorang diri. Swadaya merupakan wujud kepedulian, bukan alasan untuk mengabaikan pentingnya peran pemerintah sesuai kewenangannya.

Pada akhirnya, yang dibutuhkan Tanggamus bukan perlombaan mencari siapa yang paling berjasa, siapa yang paling berani menyindir, atau siapa yang paling populer di media sosial. Yang dibutuhkan adalah jalan yang layak, komunikasi yang terbuka, kritik yang membangun, serta respons pemerintah yang nyata dan dapat dirasakan masyarakat.

Sebab, ketika warga harus menyingsingkan lengan baju untuk memperbaiki jalan secara bersama-sama, yang patut menjadi perhatian bukan hanya viralnya sebuah video, melainkan nasib masyarakat yang setiap hari melewati jalan tersebut.

Jangan sampai jalan yang rusak hanya ramai ketika menjadi konten. Setelah kamera berhenti merekam dan perhatian warganet mulai mereda, masyarakat tetap membutuhkan jalan yang layak dan kepastian bahwa keluhan mereka benar-benar didengar.

Jurnalis : (Erwin).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *