PUSKESMAS GUNUNG SARI MENCEKAM.!! Tenaga Kesehatan Mengaku Diminta Uang dan Ditekan untuk Diam
Tanggamus (Medinas_News) — Polemik di Puskesmas Gunung Sari, Kecamatan Ulu Belu, Kabupaten Tanggamus, tampaknya belum berakhir. Setelah sebelumnya mencuat dugaan penjualan infus dan obat-obatan milik puskesmas, kini muncul pengakuan mengejutkan dari sejumlah tenaga kesehatan yang mengaku mendapat tekanan, dipanggil berulang kali, hingga diminta menyerahkan sejumlah uang yang disebut berkaitan dengan persoalan tersebut.
Dalam pengaduan yang diterima media ini, seorang pihak yang mengaku menjadi korban meminta identitasnya dirahasiakan karena mengaku takut mendapat tekanan lebih lanjut. Ia menyebut dirinya dan sejumlah rekan telah menyerahkan uang sebesar Rp1 juta kepada Kepala Puskesmas Gunung Sari. Bahkan, menurut pengakuan tersebut, uang diminta dalam bentuk tunai dan tidak diperkenankan melalui transfer. Pihak tersebut juga mengaku kembali diminta menyiapkan Rp1 juta, namun menolak karena merasa keberatan.
Yang membuat persoalan ini semakin serius adalah adanya dugaan tekanan agar para tenaga kesehatan tidak menceritakan persoalan tersebut kepada keluarga, suami maupun pihak lain. Seorang sumber bahkan mengaku mendapat peringatan agar tidak membicarakan masalah tersebut di luar lingkungan puskesmas.
“Kami tenaga kesehatan sudah ketakutan. Tetapi kami harus mengeluarkan uang. Kami tidak bisa membantah pimpinan,” ujar sumber dalam pengaduannya kepada media ini.
Sumber tersebut juga mengaku mendapat ancaman bahwa apabila tidak memenuhi permintaan uang, persoalan akan berlanjut dan mereka dapat dipanggil ke kepolisian. Bahkan disebutkan bahwa kasus tersebut telah sampai ke Polres. Kondisi itu membuat sejumlah tenaga kesehatan mengaku berada dalam posisi tertekan dan ketakutan.
Yang semakin membuat persoalan ini menjadi sorotan, para tenaga kesehatan yang disebut dalam pengaduan tersebut mengaku bukan pegawai Puskesmas Gunung Sari. Mereka menjalankan aktivitas pelayanan kesehatan secara mandiri dan merasa terseret dalam persoalan dugaan keluarnya logistik kesehatan dari puskesmas.
“Kami tidak punya jalan lain lagi. Kami takut. Kami tidak boleh bercerita kepada keluarga maupun suami,” demikian pengakuan sumber.
Karena tenaga kesehatan yang bersangkutan mengaku takut berbicara secara langsung, informasi terkait persoalan tersebut kemudian disampaikan kepada awak media oleh salah satu anggota keluarganya. Keluarga tersebut mengungkapkan bahwa tenaga kesehatan yang bersangkutan merasa tertekan setelah diminta menyerahkan uang sebesar Rp1 juta dan khawatir persoalan tersebut berdampak lebih jauh terhadap dirinya.
Keterangan dari salah satu keluarga tenaga kesehatan itu menjadi salah satu sumber informasi yang diterima media ini terkait dugaan permintaan uang dan tekanan terhadap tenaga kesehatan. Identitas keluarga maupun tenaga kesehatan yang bersangkutan dirahasiakan atas pertimbangan keamanan dan permintaan dari pihak keluarga.
Menurut keterangan keluarga, tenaga kesehatan tersebut bukan pegawai Puskesmas Gunung Sari, namun menjalankan aktivitas pelayanan kesehatan secara mandiri dan mengaku terseret dalam persoalan dugaan keluarnya logistik kesehatan dari puskesmas.
Keluarga tersebut juga menyampaikan bahwa tenaga kesehatan yang bersangkutan telah menyerahkan uang sebesar Rp1 juta dan kemudian kembali diminta menyiapkan uang dengan jumlah yang sama. Karena merasa takut, pihak keluarga memilih menyampaikan persoalan tersebut kepada awak media agar dapat diketahui dan diklarifikasi oleh pihak-pihak terkait.
Jika pengaduan tersebut benar, persoalannya tentu tidak lagi sebatas pelanggaran administrasi. Muncul pertanyaan serius mengenai apakah terdapat upaya untuk menyelesaikan persoalan secara internal dengan tekanan terhadap pihak-pihak yang mengetahui atau diduga berkaitan dengan kasus sebelumnya.
Lebih jauh, dugaan permintaan uang untuk mencabut atau menghentikan persoalan hukum merupakan tuduhan serius yang wajib dibuktikan melalui pemeriksaan objektif. Media ini tidak menyimpulkan adanya pemerasan sebagai fakta sebelum terdapat hasil pemeriksaan dari pihak berwenang. Namun, pengakuan para sumber cukup serius untuk menjadi alasan Dinas Kesehatan, Inspektorat, maupun aparat penegak hukum melakukan klarifikasi dan pemeriksaan secara menyeluruh.
Publik kini menunggu: apakah Puskesmas Gunung Sari akan menjadi tempat pelayanan kesehatan, atau justru berubah menjadi ruang yang membuat para tenaga kesehatan merasa takut untuk berbicara..??
Dinas Kesehatan Kabupaten Tanggamus diminta tidak menutup mata. Bila benar ada uang yang diminta, tekanan terhadap tenaga kesehatan, larangan berbicara kepada keluarga, serta ancaman akan dipanggil polisi, maka semuanya harus dibuka terang-benderang melalui pemeriksaan resmi.
Para tenaga kesehatan yang mengaku menjadi korban juga berhak memperoleh perlindungan dan ruang untuk menyampaikan kesaksian tanpa intimidasi. Sebab, pelayanan kesehatan tidak boleh dibangun di atas ketakutan, dan persoalan yang menyangkut uang maupun dugaan penyalahgunaan kewenangan tidak boleh diselesaikan dengan cara membungkam pihak yang berani bicara.
Media ini menegaskan bahwa seluruh tudingan tersebut masih berupa pengakuan dan dugaan dari sumber dan perlu dibuktikan melalui pemeriksaan resmi. Namun, karena menyangkut dugaan tekanan terhadap tenaga kesehatan dan penggunaan kewenangan, Dinas Kesehatan Kabupaten Tanggamus, Inspektorat, maupun aparat penegak hukum dinilai perlu turun tangan untuk memastikan apa yang sebenarnya terjadi.
Sebab, di balik persoalan ini terdapat tenaga kesehatan yang mengaku ketakutan untuk berbicara. Mereka mengaku tidak berdaya menghadapi tekanan, bahkan khawatir akan dipanggil kembali apabila pemberitaan ini muncul ke publik.
Pertanyaannya kini sederhana: jika memang tidak ada yang perlu ditakutkan, mengapa mereka sampai merasa harus diam dan menyembunyikan identitas..??
Media ini membuka ruang hak jawab dan klarifikasi kepada Kepala Puskesmas Gunung Sari maupun pihak terkait atas seluruh pengaduan yang disampaikan sumber.
Jurnalis : (Erwin).