Tanggamus (Medinas_News) – Erupsi Gunung Anak Krakatau tak hanya membuat warga khawatir, tetapi juga mulai mengganggu aktivitas pendidikan di wilayah kepulauan. SMK Negeri 1 Pulau Tabuan, yang berada di Pekon Kuta Kakhang, Kecamatan Cukuh Balak, Kabupaten Tanggamus, menjadi salah satu sekolah yang terdampak hujan abu vulkanik.
Abu vulkanik yang turun membuat aktivitas siswa dan guru di sekolah harus dilakukan dengan penuh kewaspadaan. Kondisi jalan yang dipenuhi debu juga menjadi kekhawatiran tersendiri, terutama bagi keselamatan siswa yang harus melakukan perjalanan menuju sekolah.
Plt Kepala SMKN 1 Pulau Tabuan, M. Ruzabari, M.Pd., mengatakan pihak sekolah untuk sementara mengimbau para siswa agar belajar dari rumah sebagai langkah antisipasi terhadap dampak abu vulkanik.
“Kita terpaksa menghimbau kepada siswa untuk belajar di rumah, karena kesehatan, dan juga jalan penuh debu,” ujar Ruzabari.
Menurutnya, apabila hingga Senin, 7 September 2026, hujan abu atau aktivitas erupsi masih terjadi dan kondisi belum memungkinkan untuk kegiatan belajar mengajar secara normal, pihak sekolah akan mengambil langkah untuk meliburkan siswa sementara demi keselamatan dan kesehatan mereka.
“Kita lihat kondisi sampai hari Senin. Kalau masih seperti ini, masih terjadi hujan debu, tentu kita akan mengambil langkah untuk meliburkan siswa,” jelasnya.
Kondisi tersebut menjadi pukulan tersendiri bagi dunia pendidikan di Pulau Tabuan. Di tengah upaya meningkatkan mutu pendidikan, SMKN 1 Pulau Tabuan masih menjalankan proses belajar dengan segala keterbatasannya.
Sekolah tersebut tercatat hanya memiliki sekitar 70 siswa, tujuh guru honorer dan dua tenaga kependidikan honorer, sementara satu-satunya tenaga ASN di sekolah adalah Plt Kepala Sekolah.
Kini, ancaman abu vulkanik Gunung Anak Krakatau kembali menambah tantangan bagi sekolah yang berada di wilayah kepulauan tersebut. Bagi SMKN 1 Pulau Tabuan, pendidikan memang penting, tetapi keselamatan anak-anak tetap menjadi yang utama.
Jika kondisi kembali normal, kegiatan belajar mengajar akan dilanjutkan. Namun apabila abu vulkanik masih mengguyur dan perjalanan menuju sekolah tetap dipenuhi debu, sekolah memilih berhenti sejenak daripada mempertaruhkan kesehatan dan keselamatan para siswa.
Jurnalis : (Erwin).