Bak Situs Purbakala..!! Jalan Bendungan Tanggamus Ungkap “Batu Peninggalan Belanda”

Bandar Lampung DAERAH HOME LAMPUNG NASIONAL PROVINSI Tanggamus TERBARU

Bak Menemukan Harta Karun Zaman Belanda, Batu-Batu Besar Menyembul dari Jalan Bendungan Tanggamus.

Tanggamus (Medinas_News) — Bak menemukan harta karun peninggalan zaman Belanda, batu-batu berukuran besar kini terlihat jelas di tengah kerusakan Jalan Bendungan, Kecamatan Kotaagung Pusat, Kabupaten Tanggamus, Lampung. Bukan di situs bersejarah, bukan pula di lokasi penggalian benda purbakala, melainkan di jalan yang berada di jantung ibu kota Kabupaten Tanggamus. Lubang menganga, badan jalan amblas, dan aspal yang hancur membuat batu-batu di dasar jalan tampak menonjol, seolah menjadi saksi bisu panjangnya penantian masyarakat terhadap perbaikan infrastruktur.

Kondisi jalan yang menghubungkan Kelurahan Kuripan, Pekon Kusa, Pekon Kedamaian hingga Pekon Benteng Jaya itu kian memprihatinkan. Kerusakan tersebar di sejumlah titik, dengan lubang besar yang membahayakan pengendara. Tokoh pemuda setempat, Bima Aditya, menilai kondisi tersebut sudah sepatutnya mendapat perhatian serius. Terlebih, menurutnya, kerusakan jalan itu telah dikeluhkan masyarakat selama belasan tahun.

“Kalau melihat batu-batu besar yang muncul dari jalan, orang bisa saja mengira sedang menemukan peninggalan zaman Belanda. Padahal, yang sebenarnya kita temukan adalah betapa parahnya kerusakan jalan di jantung Kabupaten Tanggamus. Masyarakat tentu berharap jalan ini segera diperbaiki dengan penanganan yang menyeluruh, bukan sekadar ditambal lalu rusak kembali,” ujar Bima.

Ia menambahkan, masyarakat selama ini tidak tinggal diam. Warga bergotong royong melakukan perbaikan secara swadaya, bahkan SMK Muhammadiyah turut berupaya menambal sejumlah bagian jalan yang rusak. Namun, aliran air irigasi yang meluap saat hujan kembali menggerus jalan, sehingga kerusakan terus berulang. Upaya mandiri tersebut menjadi bukti kepedulian masyarakat, sekaligus gambaran bahwa persoalan ini membutuhkan solusi yang lebih permanen.

Ironisnya, jalan yang berada di kawasan pusat Kabupaten Tanggamus justru menyimpan persoalan yang telah berlangsung begitu lama. Masyarakat berharap pemerintah daerah dapat memberikan perhatian melalui perbaikan menyeluruh, termasuk penanganan aliran air yang diduga memperparah kerusakan, agar jalan tidak kembali hancur setelah diperbaiki.

Adapun istilah “batu peninggalan zaman Belanda” dalam pemberitaan ini hanyalah perumpamaan satir, bukan klaim penemuan benda bersejarah. Ungkapan itu menggambarkan betapa dalam dan parahnya kerusakan Jalan Bendungan, hingga batu-batu besar di bawah permukaan jalan terlihat jelas. Sebab, yang seharusnya menjadi peninggalan bersejarah di pusat kota adalah bangunan yang bernilai sejarah, bukan jalan rusak yang membuat masyarakat terus bertanya: sampai kapan harus menunggu jalan ini benar-benar diperbaiki..??

Jurnalis : (Erwin).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *